Kejadian Langka Saat Saham, Emas, dan Bitcoin Kompak Ambrol, Ada Apa?

  • Bagikan
Saham Emas Bitcoin
Ilustrasi (Foto: beritasatu.com)

JAKARTA, LINES.id – Pekan ini, kejadian langka terjadi pada aset berisiko, aset aman hingga aset spekulatif yang kompak ambrol. Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang terjadi dengan pasar finansial global?

Dilansir CNBC Indonesia, dimulai dari pasar saham, Wall Street mencatat penurunan tajam. Ketiga indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS) mencatat kinerja negatif. Indeks S&P 500 merosot 1,69%, Dow Jones bahkan lebih besar lagi 2,15%, dan Nasdaq minus 1,6%.

Jebloknya kiblat bursa saham dunia tersebut sudah cukup menggambarkan mayoritas bursa saham di dunia mengalami pelemahan. Indeks DAX 30 Jerman dan FTSE 100 masing-masing turun 1,09% dan 1,53%. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,52%.

Ketika aset-aset berisiko rontok, aset aman (safe haven) biasanya akan menguat. Tetapi, di pekan ini emas yang merupakan aset safe haven malah ambrol lebih dari 2% ke US$ 1.787,34/troy ons.

Baca juga: Resmikan Ekspor Perdana Telur Tetas, Menko Perekonomian: Jangan Dilambung Vietnam Lagi

Mata uang kripto yang sedang naik daun pun mayoritas jeblok. Bitcoin yang digadang-gadang sebagai emas digital atau yang kontra menyebutkannya sebagai produk spekulatif semata juga jeblok lebih dari 10% dalam sepekan. Padahal pada Senin lalu bitcoin sukses kembali ke atas US$ 50.000/koin.

Lantas, kemana duit para investor pindah?

Jika dilihat, indeks dolar AS di pekan ini menguat 0,59% ke 92,582, kemudian yield obligasi AS (Treasury) tenor 10 tahun naik 1,71 basis poin ke 1,342%. Melihat penguatan keduanya, kemungkinan besar pelaku pasar bersiap menghadapi tapering bank sentral AS (The Fed).

Tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) pernah terjadi di tahun 2013. Kebijakan tersebut memicu lonjakan yield Treasury dan penguatan tajam dolar AS. Aliran modal keluar dari negara emerging market dan kembali ke Amerika Serikat, pasar finansial global pun bergejolak yang disebut dengan taper tantrum.

Tapering bukan sekedar isu. Ketua The Fed Jerome Powell sudah menyatakan langsung jika tapering akan tepat dilakukan di tahun ini. Ia sepakat dengan koleganya di The Fed, tetapi masih belum ada kepastian kapan tapering akan dilakukan.

Baca juga: Peternak Somasi Kementan, DPP Pinsar Tegaskan Dukung Keseimbangan Supply and Demand Ayam

Sebelum The Fed, beberapa bank sentral dunia sudah mengurangi nilai pembelian asetnya, meski menolak menyebutnya sebagai tapering. Bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) sudah mengurangi nilai QE pada Mei lalu, kemudian bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA), bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK) bahkan sudah menaikkan suku bunga acuannya. Yang terbaru bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

“Berdasarkan penilaian bersama terkait kondisi finansial dan outlook inflasi, Dewan Gubernur memutuskan untuk melanjutkan program PEPP dengan menurunkan nilainya secara moderat dibandingkan dua kuartal sebelumnya,” tulis pernyataan ECB sebagaimana dikutip CNBC International, Kamis (9/9/2021).

Dalam dua kuartal sebelumnya, nilai pembelian aset ECB sebesar 80 miliar euro per bulan, selanjutnya para analis memprediksi nilainya akan turun menjadi 70 miliar euro hingga 60 miliar euro.

Meski nilai program pembelian obligasinya dikurangi, tetapi Lagarde kepada media menyatakan hal tersebut bukanlah tapering. “The lady isn’t tapering” kata Lagarde dalam menjelaskan keputusan tersebut. Reuters melaporkan kalimat tersebut mengingatkan pada pernyataan terkenal dari mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher “The lady’s not for turning”.

Baca juga: Pulihkan Perekonomian, Bekali Masyarakat dengan Keterampilan

Inflasi yang tinggi menjadi salah satu faktor yang membuat ECB melakukan pengurangan nilai program pembelian aset. Begitu juga dengan The Fed, target inflasinya sudah tercapai.

Tetapi, di saat dukungan moneter berkurang, penyebaran penyakit akibat virus corona justru kembali mengganas di beberapa negara, termasuk di Amerika Serikat. Rata-rata penambahan kasus dalam 7 hari terakhir hingga Jumat (10/9/2021) lalu sebanyak 145.885 orang, masih berada di dekat rata-rata tertinggi sejak Januari lalu. Hal yang sama juga terjadi di berbagai negara, Eropa hingga Asia.

Kenaikan kasus tersebut serta berkurangnya stimulus moneter membuat pelaku pasar cemas akan kemungkinan perekonomian global kembali nyungsep, yang memicu aliran investasi ke dolar AS, sama seperti Maret tahun lalu ketika Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi.

  • Bagikan