Hadapi Badai Ekonomi Akibat Pandemi, Menkeu Luncurkan Sejumlah Stimulus

Menkeu
Menteri Keuangan Sri Mulyani (sumber: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc)

JAKARTA, LINES.id – Indonesia sedang menghadapi badai ekonomi akibat pandemi virus Corona. Bagaimana tidak, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tak lagi terhindarkan akibatnya jutaan orang kehilangan pekerjaannya. Resesi menjadi keniscayaan.

Dilansir CNBC Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, berkali-kali mengingatkan, pandemi virus corona (Covid-19) tak dipungkiri lagi membuat terjadinya krisis kesehatan di dunia yang kemudian menjalar ke krisis perekonomian.

Sebuah laporan menarik ditulis Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath yang mengistilahkan The Great Lockdown, penurunan ekonomi yang terburuk sejak era Depresi Besar yang menghantam perekonomian dunia pada 1929 silam.

“Selain itu banyak negara sekarang menghadapi multikrisis: krisis kesehatan, krisis keuangan, dan jatuhnya harga komoditas,” tulis Gita, dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (18/4/2020). Dalam ulasan bertajuk The Great Lockdown: Worst Economic Downturn Since the Great Depression.

Gita memperkirakan, outlook perekonomian global sepanjang April 2020 akan terkoreksi cukup tajam minus 3 persen akibat pandemi. Menjadikan yang terburuk sejak era krisis finansial global pada 2009 yang minus 0,1%.

Perlahan tapi pasti, dampak pandemi Corona telah merontokkan perekonomian Negeri Tirai Bambu. Pada kuartal pertama 2020, ekonomi China negatif 6,8%, menjadi yang terendah sejak tahun 1992, padahal China merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Baca juga: Partisan Partai Demokrat Ajukan Pilpres AS Melalui Email

Baca juga: LDII Konsisten Gelar Pengajian Saat Pandemi Covid-19, Begini Etika Pengajian Online di LDII

 

Bagaimana dengan Indonesia?

Ramalan Menkeu memperkirakan, pada kuartal pertama pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan tumbuh pada kisaran 4,5%-4,6%.

“Januari sampai Februari ada momentum pemulihan dari 2019. Konsumsi, investasi, bahkan ekspor menunjukkan perkembangan positif. Bahkan konsumsi sampai Maret minggu pertama masih bagus,” kata Menkeu dalam konferensi pers realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 per akhir Maret, Jumat (17/4/2020).

Tapi, badai masih akan terlalu kuat. Di kuartal kedua, Bendahara Negara mengingatkan kondisinya akan sangat berbeda. Apalagi, Organisasi Kesehatan Dunia telah mengumumkan virus Corona sebagai pandemi global.

Pandemi menyebabkan perekonomian di seluruh dunia mengalami kontraksi sangat dalam. Karena laju perekonomian terhambat akibat kebijakan karantina wilayah dan pembatasan sosial.

“Kuartal I tidak mencerminkan tren ke depan, kuartal II bisa berubah cepat. Apakah kuartal II adalah puncak dan kuartal II bisa recover, nanti kita liat apakah terjadi recovery atau apakah stagnasi,” papar Menkeu

Tak tanggung-tanggung, IMF bahkan memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini hanya akan tumbuh 0,5% dari proyeksi sebelumnya 5% di tahun 2019. Namun pertumbuhan diproyeksi bisa membaik di 2021, dengan perkiraan 8,2%.

Baca juga: Wujud Keterampilan, Alumni LPK Budi Utomo Makassar Jahit Masker Cegah Covid-19

Baca juga: Prihatin Masker Langka, Katno Hadi Produksi Ribuan Masker

 

Menyalurkan bansos

Lesunya aktivitas perekonomian domestik setidaknya sudah terlihat dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kebijakan pembatasan sosial.

Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis PHK. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono bahkan mengatakan jumlah ini akan terus bertambah.

Tapi, untuk meredam pelemahan konsumsi lebih dalam lagi, pemerintah meluncurkan sejumlah stimulus, di antaranya melalui pemberian bantuan sosial atau program jaring sosial senilai Rp 110 triliun agar daya beli masyarakat bawah tetap terjaga.

Menurut Menteri Sosial Juliari P Batubara, Kemensos akan mengirimkan bantuan sosial sembako pada bulan tertentu di tahun 2020.

Bantuan tersebut berupa paket sembako senilai Rp 600 ribu per bulan untuk satu keluarga. Setiap bulan bantuan ini disalurkan dua kali masing-masing Rp300 ribu per paket sembako termasuk kemasan dan ongkos kirim. Bansos sembako terdiri dari beras, minyak goreng, sarden, kornet, sambal, kecap, mie instan, susu UHT, teh, dan sabun mandi.

“Waktu pengiriman bantuan adalah April, Mei, dan Juni. Bantuan diberikan kepada keluarga miskin dan rentan terdampak Covid-19 yakni DKI Jakarta sebanyak 1,3 juta KK,” jelas Juliari dalam siaran resminya, Jumat (17/4/2020).