AKB Jadi Solusi Penggerak Ekonomi Kala Covid-19

AKB
Ilustrasi Adapatsi Kebiasaan Baru (AKB) (Foto: freepik.com)
Dampak Penerapan AKB

Kebijakan pemerintah mengadopsi AKB memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari AKB adalah: Pertama, dapat menggerakkan roda perekonomian. Hal yang pertama diizinkan bergerak adalah para pekerja di bidang industri. Kemudian destinasi wisata dibuka kembali, yang dilanjutkan dengan perdagangan dan jasa, serta transportasi. Dari sisi wisata, turis domestik menjadi prioritas untuk menimbulkan geliat ekonomi, khususnya di daerah. Lalu perdagangan dan jasa juga bisa membuat aktivitas masyarakat secara menyeluruh bergerak dan menghasilkan ekonomi instan, khususnya bagi masyarakat kecil. Kemudian, transportasi jadi kebutuhan utama para pekerja, pedagang, turis lokal.

Kedua, AKB berdampak membentuk budaya masyarakat, membiasakan diri berperilaku hidup bersih. Bahwa hidup bersih dimulai dari diri sendiri dan berupaya menularkannya pada orang lain. Masyarakat harus rajin cuci tangan dengan air mengalir serta memakai sabun, makan-makanan bergizi, olahraga teratur, istirahat yang cukup. Perusahaan, mal dan pasar serta tempat umum sadar mengenai hidup mengikuti protokol kesehatan.

Dengan diterapkannya AKB, menciptakan waktu kerja yang fleksibel dan penyesuaian jam kerja. Tidak terbatas itu saja, dalam pencegahan penyebaran virus corona ini, juga akan membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Kebiasaan cek suhu tubuh, menggunakan masker, tetap menjaga jarak, mengurangi kontak fisik, menghindari pertemuan dengan jumlah orang yang banyak. Ketiga, AKB berdampak bahwa kegiatan akademik dilangsungkan secara daring (online), menggunakan media informasi untuk menyampaikan standar pelayanan baru.




Baca juga: Pemerintah Gandeng Ormas Islam Cegah Covid-19, Mungkinkah?

Baca juga: Serahkan Bantuan kepada Tokoh Adat, Gubernur Khofifah: Kerukunan Beragama Tangkal Covid-19

 

Sementara dampak negatifnya, antara lain pertama, tingginya angka penularan virus corona, jika masyarakat tidak memahami aturan baru dan tidak mentaati protokol kesehatan yang sudah diinstruksikan oleh pemerintah. Karena masyarakat menganggap hidup normal identik dengan kebebasan, tanpa mengindahkan aturan pemerintah. Maka yang terjadi adalah penerapan AKB mengalami kegagalan. Belum dampak negatif yang lain, bila tergesa-gesa dalam pemberlakuan AKB ini, akan sangat berdampak buruk pada sektor kesehatan dan ekonomi. Dalam sektor kesehatan kasus positif Covid-19 ini akan melonjak. Gelombang kedua Covid-19 akan timbul, meski yang pertama pun belum reda. Sehingga rakyat semakin tidak percaya dengan pemerintah.

Kedua, di bidang ekonomi apabila masyarakat menganggap biasa bahwa AKB adalah tatanan baru yang menganggap tidak penting. Maka akibatnya akan terjadi ledakan penularan Covid-19 dan akan dilakukan PP dan Perpres yang melarang keluar rumah, sehingga secara ekonomi Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang mendalam dan parah. Bagi masyarakat yang berusia di atas 45 tahun akan melanjutkan bekerja dari rumah atau bagi yang memiliki kondisi medis tertentu akan membatasi jumlah hari kerja.

Ketiga, ditujukan agar negara tetap mampu menjalankan fungsi-fungsinya sesuai konstitusi. Harap diingat bahwa pemasukan negara berasal dari pajak dan penerimaan negara lainnya. Jika aktivitas ekonomi terus berhenti total maka negara tidak punya pemasukan, akibatnya negara juga tidak bisa mengurus rakyatnya. Dengan kata lain tanpa pengelolaan negara dengan baik di era virus corona, negara dapat berakibat fatal dan gagal.

 

Oleh Dr Sarpan SSos MSi Anggota Dewan Pakar DPW LDII Jawa Timur sekaligus pengajar luar biasa pada Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya