Peneliti Amerika Temukan 6 Virus Corona Jenis Baru dari Populasi Kelelawar

Penelitian COVID-19
Foto: Ilustrasi penelitian covid-19 (sumber: liputan6.com)

LINES.id – Para ilmuwan baru saja mengungkap sebuah hasil penelitian yang mengerikan tentang Virus Corona. Mereka mengklaim telah menemukan enam jenis baru yang disebut bisa berpotensi berbahaya dari COVID-19.

Dilansir VIVA.co.id, enam virus corona jenis baru itu ditemukan peneliti dari Smithsonian’s Global Health Program (GHP). Enam virus ditemukan setelah mereka melakukan penelitian panjang terhadap populasi kelelawar di wilayah Asia tepatnya di Negara Myanmar.

Menurut para peneliti, enam virus corona baru yang ditemukan sama sekali berbeda dengan sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS CoV-1), Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) atau COVID-19. Dan penelitian dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pandemi virus baru di dunia yang disebabkan oleh hewan liar.

“Pandemi virus mengingatkan kita betapa dekatnya kesehatan manusia dengan kesehatan satwa liar dan lingkungan,” kata peneliti utama dokter hewan, Marc Valitutto seperti dikutip VIVA.co.id di situs resmi mereka, Minggu (12/4/2020).

Penelitian fokus pada habitat kelelawar

Penelitian virus corona baru itu dilakukan sudah cukup lama di Myanmar. Dan peneliti fokus meneliti habitat kelelawar yang tempat-tempat yang sering dikunjungi manusia. Seperti perkebunan, lokasi wisata dan pusat keagamaan.

Baca juga: Kasus Covid-19 WNI: Tiga Orang Positif Corona di Turki, Satu Orang Meninggal

Baca juga: 6 Kebiasaan Makan Ini Bisa Melemahkan Sistem Imun, Apa Saja?

 

“Tim memfokuskan penelitian mereka di situs-situs di Myanmar di mana manusia lebih mungkin untuk melakukan kontak dekat dengan satwa liar setempat karena perubahan penggunaan lahan dan pembangunan,” tulis GHP.

Penelitian dilakukan dimulai dari Mei 2016 hingga Agustus 2018, peneliti berhasil mengumpulkan lebih dari 750 sampel air liur dan sampel tinja dari kelelawar di daerah itu. Para ahli memperkirakan bahwa ribuan virus corona banyak di antaranya belum ditemukan ada pada kelelawar.

Para peneliti menguji dan membandingkan sampel dengan virus corona yang diketahui dan mengidentifikasi enam virus corona baru untuk pertama kalinya. Tim itu juga mendeteksi virus corona yang telah ditemukan di tempat lain di Asia Tenggara, yang dipastikan tidak pernah ada sebelumnya di Myanmar.

Tampak bahwa tiga spesies kelelawar membawa tiga virus alphacorona yang sebelumnya tidak diketahui dan tiga betacoronavirus baru.

Sementara itu menurut Suzan Murray, direktur Program Kesehatan Global Smithsonian, memang belum dipastikan apakah enam virus corona baru yang ditemukan timnya bisa menular ke manusia atau tidak.

Program Kesehatan Global Smithsonian (GHP)

“Banyak coronavirus mungkin tidak menimbulkan risiko bagi manusia, tetapi ketika kami mengidentifikasi penyakit ini sejak dini pada hewan, pada sumbernya, kami memiliki peluang berharga untuk menyelidiki potensi ancaman. Pengawasan waspada, penelitian dan pendidikan adalah alat terbaik yang kita miliki untuk mencegah pandemi sebelum terjadi pandemi,” kata dia.

Baca juga: Prihatin Masker Langka, Katno Hadi Produksi Ribuan Masker

Baca juga: Kerja Sama dengan Kemenkes, LDII Bekasi Utara Bagikan Masker Gratis

 

Untuk diketahui Program Kesehatan Global Smithsonian (GHP) memanfaatkan keahlian multidisiplin dalam pengobatan satwa liar, patologi konservasi, pelatihan para profesional internasional dan penyelidikan penyakit menular yang muncul. Untuk memerangi ancaman terhadap konservasi dan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. GHP adalah bagian dari tim PREDICT di Myanmar dan Kenya.

GHP adalah bagian dari Institut Biologi Konservasi Smithsonian (SCBI), yang memainkan peran utama dalam upaya global Smithsonian untuk menyelamatkan spesies satwa liar dari kepunahan. Dan melatih generasi para konservasionis masa depan.

SCBI mempelopori program penelitian di kantor pusatnya di Front Royal, Virginia, Kebun Binatang Nasional Smithsonian di Washington, D.C. Dan di stasiun penelitian lapangan dan lokasi pelatihan di seluruh dunia.

Ilmuwan SCBI menangani beberapa tantangan konservasi paling kompleks saat ini dengan menerapkan dan berbagi apa yang mereka pelajari. Yakni tentang perilaku dan reproduksi hewan, ekologi, genetika, migrasi dan keberlanjutan konservasi.

Follow Berita Lines Indonesia di Google News.

Follow Channel WhastApp Lines Indonesia di WhastApp.