Ia menambahkan, kelompok terorisme tidak hanya ada dalam agama islam namun di agama lainnya yang biasanya berada pada kelompok mayoritas. “Radikal terorisme tidak dapat ditangani hanya oleh pemerintah namun seluruh elemen masyarakat. Ideologi Pancasila adalah kesepakatan founding father NKRI, yang merupakan implementasi dari seluruh agama yang positif dan merangkul seluruhnya,” tegasnya.
Paparan para Narasumber

Sebagai eks napiter, Yudi pernah bergabung dalam kegiatan terorisme dan sempat dipenjara selama 5 tahun di Aceh. “Terorisme adalah tindakan kekerasan yang berbasis Ideologi dan menganggap kelompoknya benar, sehingga dapat dengan cepat menyebar jaringannya,” ucapnya.
Dalam dunia terorisme, kata Yudi, terdapat empat tahap paparan terorisme. Pertama, intoleran yakni merasa hanya pandangan kelompoknya yang benar dan di luar dari pemahamannya adalah salah. Kedua, radikalisme yaitu timbulnya rasa kebencian terhadap kelompok yang memiliki paham berbeda. Ketiga, terorisme yaitu proses mulai membentuk kelompok terorisme dan menentukan beberapa target yang dianggap salah. “Tahap yang terakhir aksi teror, adalah proses akhir dalam perencanaan pelaksanaan teror yang dianggap benar dalam ajarannya,” urainya.

Narasumber selanjutnya, Husein Ja’far Al Haddar memaparkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk mengutamakan kedamaian dan agama Islam adalah Rahmatal Lilalamin -merupakan rahmat bagi seluruh alam-. “Beberapa daerah yang mayoritas Islam saat ini kurang menerapkan syariat islam dalam kehidupan sosial, sehingga moral yang diajarkan Islam sebenarnya tidak terbentuk,” kata Husein.
Baca juga: FH UMI Juara Debat Hukum di Alauddin Law Fair 2020
Baca juga: Jadi Saksi Penandatanganan Kerjasama Unsimar-UMI, Bupati Poso Langsung Mendaftar Kuliah di PPs UMI
Lanjutnya, perspektif tasawuf harus dilaksanakan yang terdiri dari introspeksi, akhlak, hati-hati, solutif, akomodatif, moderat dan rendah hati.

Wakil Rektor IV UMI dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa ada 6 prinsip yang perlu dikembangkan dalam pendidikan moderasi bergama yaitu sikap humanis, realistis, inklusif, adil, kerjasama dan toleran.
Ia juga memaparkan empat langkah mengembangkan moderasi beragama untuk generasi milenial yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi media sosial dalam menyebarluaskan moderasi beragama. Kedua, melibatkan generasi milenial dalam kegiatan positif di masyarakat. Ketiga, perlu ada ruang dialog yang memadai bagi generasi milenial baik di lembaga pendidikan di rumah dan masyarakat. Keempat, mengoptimalkan fungsi keluarga sebagai lembaga pembinaan karakter yang positif.

“Bahwa berdasarkan survei mahasiswa di 5 kampus besar di Kota Makassar, lebih dari 50 persen menyetujui sistem khilafah diterapkan. Untuk itu, setiap kampus agar tetap waspada dan terus melakukan pemantauan dan pembinaan terkait penyebaran paham radikal yang menyimpang,” pesan Suaib Pramono.












