LINES.id – Dalam Kitab Hilyatul Aulia karya Abu Nu’aim Al-Ashfani, diceritakan, suatu masa, muncul segerombolan mahluk Allah berupa wabah penyakit ganas yang hendak memasuki Kota Damaskus. Dalam perjalanan menuju Kota Damaskus, mereka bertemu dengan salah satu Wali Allah. Kemudian, terjadilah percakapan.
Waliyullah bertanya, “Mau ke mana kalian?” Wabah menjawab, “Kami diperintah oleh Allah untuk memasuki Damaskus.” Waliyullah bertanya lagi, “Berapa lama, dan berapa banyak korbannya?” Wabah itu pun menjawab; “2 tahun dengan 1.000 korban meninggal.”
Dua tahun kemudian, ternyata jumlah korban meninggal mencapai 50.000 orang bukan 1.000 orang seperti yang dijanjikan. Ketika Sang Wali bertemu kembali dengan wabah penyakit ini, ia pun bertanya, “Kenapa dalam dua tahun kalian membunuh 50.000 orang? Bukannya kalian janji hanya 1.000 orang meninggal?”
Baca juga: Tujuh Pengertian Sabar dalam Menghadapi Wabah
Baca juga: Memaknai Rasa Takut Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW
Wabah itu pun menjawab, “Kami memang diperintah Allah untuk merenggut 1.000 korban, sedangkan yang 49.000 korban lainnya meninggal dikarenakan ketakutan dan kepanikan terhadap korban yang meninggal. Jadi, bukan salah saya.”
Pesan Rasulullah SAW dan Ibnu Sina
Cerita di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa ketakutan terhadap wabah jangan sampai membuat panik sehinggga menambah parahnya wabah. Karena kepanikan justru melahirkan takdir baru yang sebelumnya belum diseting dalam qadla-Nya.
Namun ketakutan terhadap wabah seharusnya membuat kita lebih waspada dalam menjaga kesehatan, menjaga diri sendiri, menjaga keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan bibit kewaspadaan, menumbuhkan optimisme dalam menghadapi wabah.
Baca juga: Hikmah Dibalik Kisah “Kabar Angin Menciptakan Kelaparan”
Baca juga: Wabah Tha’un, Tidak Ada Penyakit Menular
Sebagaimana dipesankan Rasulullah SAW bahwa setiap penyakit selalu ada obatnya.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ “ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً ”.
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Sa’id bin Abu Husain dia berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Atha`bin Abu Rabah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam beliau bersabda: “Allah tidak akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya juga.” (HR Bukhari).
Sejalan dengan sabda indah Rasulullah SAW di atas, sebagaimana tersebar dalam media sosial, seorang pemikir islam terkemuka yaitu Ibnu Sina berpesan dalam tiga kalimat indah untuk menghadapi situasi seperti ini dan menambah motivasi. Pesannya;
الوهم نصف الداء، والاطمئنان نصف الدواء، والصبر أول خطوات الشفاء. – ابن سينا
Artinya; “Delusi/kepanikan (waham) adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah separo obat, kesabaran adalah awal dari penyembuhan.“
Mari tumbuhkan optimisme dengan tindakan-tindakan yang aktif -produktif jangan sampai jatuh pada tindakan menyepelekan atau bahkan tidak peduli.
Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang












