oleh

Memaknai Rasa Takut Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW

LINES.id – Suatu hari dalam perbincangan via telepon dengan lantang anak saya berkata:” Kita kan orang iman, masak takut corona. Takut itu hanya kepada Allah!” Pleng! Seperti ditempeleng kepala saya. Kalau masih di medsos, saya anggap masih jauh. Silahkan apa saja dan bagaimana terserah, begitu anak sendiri yang ngomong, saya perlu segera koreksi.

Kalimat itu kelihatan bagus dan religius. Menunjukkan keberanian dan ketegaran. Tetapi bagaimanakah sebetulnya? Dalam hadits-hadits shohih dalam masalah tha’un (wabah), tidak ada petunjuk dalam menghadapi situasi ini dengan menonjolkan keberanian, dengan nasihat sepeti kata-kata indah itu. Yang ada adalah petunjuk dan nasehat kehati-hatian, penjagaan, tenggang rasa dan kesabaran serta penuh optimisme.

Memang kalau kita teliti lebih lanjut kisah Umar bin Khatthab yang membatalkan perjalanan ke Syam, ada kalimat yang berbunyi; Sebagian mereka berkata (muhajir awal), “Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali.” – dalam bahasa sehari-hari apa yang diucapkan putri saya bisa masuk di dalamnya. Dan ternyata itu tidak dipilih oleh Umar. Sang Khalifah memilih kembali dan menghindar dari wabah yang sedang melanda, selagi bisa.




Baca juga: Hikmah Dibalik Kisah “Kabar Angin Menciptakan Kelaparan”

Baca juga: Tujuh Pengertian Sabar dalam Menghadapi Wabah

 

Kemudian untuk urusan rasa takut, secara fitrah manusia diberi Allah rasa takut. Ada rasa takut alami yang Allah letakkan pada manusia untuk menjaga dirinya dari kebinasaan, seperti takut singa kalau diterkam, takut api yang membakar, takut tenggelam, takut racun, takut ditangkap karena akan dibunuh, dan lain-lain. Takut jenis ini efeknya sama semua, yakni membuat orang lari dari yang ditakuti dan berusaha menyelamatkan diri. Takut jenis ini tidak tercela, tidak haram, dan sama sekali tidak bertentangan dengan keimanan.

Berikutnya adalah rasa takut penghambaan, yaitu rasa takut yang disertai dengan mahabbah (cinta), ihtirom (penghormatan), ta’zhim (pengagungan), tadzallul (menghinakan diri), khudhu’ (ketundukan). Contohnya adalah takut terhadap keris, akik, jimat, kuburan, pohon “keramat”, tempat “suci”, dan lain-lain.

Rasa takut seperti ini bukan malah membuat orang lari yang ditakuti, tetapi justru malah membuatnya mendekat, membuatkan berbagai sesajen, membuat upacara kurban, memuliakan dan lain-lain karena ingin “membujuk hatinya” supaya tidak marah dan tidak menimpakan bencana yang dikuatirkannya. Rasa takut seperti ini hanya boleh untuk Allah dan haram dipersembahkan untuk selain Allah (syirik).




Baca juga: Wabah Tha’un, Tidak Ada Penyakit Menular

Baca juga: Kisah Umar bin Khatab Saat Sahabat Berselisih Pendapat Hadapi Wabah Tha’un

 

Dalam kasus corona, rasa takutnya adalah yang pertama, bukan rasa takut yang kedua. Apalagi kalau memakai hadits dari Imam Bukhari ini; insya Allah akan memberi kesadaran kepada kita bagaimana seharusnya.

وَقَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ ‏”‏‏.‏

Bersabda Rasulullah SAW; “Tidak ada adwa (penyakit menular), tidak ada thiyarah dan hammah (menyandarkan nasib pada burung), dan tidak ada shofar (menjadikan bulan shofar sebagai bulan sial); dan larilah dari penyakit lepra sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.” Perintah lari adalah haq, bukan menyelisihi rasa takut kepada Allah dan merusak keimanan. Justru dia bagian dari kehati-hatian dan memperkuat keimanan.

Kadang memang susah, untuk bisa berada di waktu dan tempat yang tepat, sehingga menghasilkan respon yang benar. Kata-kata anak saya hanya sebagian kecil pelajaran kehidupan yang hanya perlu disikapi dengan bijak dan penuh pengertian. Semoga waktu dan pengalaman mendewasakannya. Amin.

 

Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang

Komentar

News Feed