NGAWI, LINES.id – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2 dilaksanakan pada 29 Juni -18 Agustus 2020. Adanya pandemi Covid-19, mahasiswa peserta KKN-PPM UGM menjalankan program pengabdian dengan metode daring atau online.
Demikian halnya KKN-PPM UGM yang dilaksanakan secara daring di Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Jogorogo berada di lereng barat laut Gunung Lawu dan terdiri dari 12 desa. Desa yang dikembangkan melalui KKN-PPM UGM unit Ngawi ini adalah Desa Jaten dengan luas wilayah sekitar 318,36 ha. Terdiri dari 4 dusun meliputi Dusun Jaten, Pandak, Jetis, dan Duren. Mayoritas penduduk Desa Jaten merupakan penduduk asli bersuku Jawa.
Kondisi demografi di Desa Jaten berpotensi dapat dikembangkan sebagai desa wisata berbasis budaya. Untuk itu pengembangan dan inovasi berbasis budaya dirumuskan melalui konsep buku saku sederhana.
Baca juga: Dimulai 29 Juni, Mahasiswa KKN-PPM UGM Siap Kembangkan Jogorogo via Daring
Baca juga: Kupas Secara Komprehensif, PK Silin Fakultas Kehutanan UGM Gelar 5 Seri Seminar Daring
Rumusan konsep buku saku sederhana mengenai aksara Jawa dan tokoh pewayangan dibuat sebagai sarana pengayaan bagi para siswa. Sebagaimana diketahui bahwa aksara Jawa dan wayang merupakan salah satu identitas budaya Jawa. Identitas budaya yang semacam inilah dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik pariwisata. Pengembangan pariwisata berbasis budaya di desa ini dapat mengimbangi sektor agrowisata yang akan segera dikembangkan.
Buku saku Wiayata Budaya
Penyusunan buku saku ini dipimpin oleh Sahmu Hidayat, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM Jurusan Sastra Nusantara. Dalam pembuatannya, Sahmu dibimbing oleh Atus Syahbudin PhD dosen Fakultas Kehutanan dan Dr Moh Masrukhi MHum dosen Fakultas Ilmu Budaya yang juga sebagai Dosen Pembimbing Lapangan dan Koordinator Wilayah KKN-PPM UGM.

Sahmu menyusun buku saku berjudul Trawaca Aksara dan Wiyata Wayang yang merupakan seri buku saku Wiyata Budaya. Secara khusus kedua buku saku disusun untuk mengedukasi pendidikan budaya kepada para siswa di Desa Jaten. Selain itu, Sahmu pun membuat poster Pariwisata Sari Budaya.
Baca juga: PSDIK FKT UGM Laksanakan Ujian Tertutup Daring, Disertasi Ungkap Kehati Gunung Merapi
Baca juga: Reviewer LPDP Kupas Syarat Lolos Beasiswa ke Luar Negeri
Tujuan pembuatan poster ini ialah untuk memperkenalkan konsep desa wisata budaya secara khusus kepada pemangku pemerintah di Desa Jaten dan secara umum kepada seluruh masyarakat. Program-program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat di dalam upaya pengembangan desa wisata budaya ke depannya. Sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan rating desa agrowisata yang juga sebagai desa wisata budaya.

Sebagaimana diketahui, edukasi budaya kepada generasi muda dapat dilakukan melalui pendidikan yang bersifat formal maupun non formal. Dalam lingkup pendidikan formal, para generasi muda memperoleh edukasi budaya dengan adanya mata pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib sekolah-sekolah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY. Sedangkan dalam lingkup non formal, edukasi budaya dapat diperoleh dari lingkungan keluarga maupun kegiatan sosial dengan masyarakat sekitar.
Meski demikian, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa edukasi budaya kurang bermanfaat terhadap masa depan. Anggapan yang semacam inilah yang perlu diluruskan kembali melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat edukasi awal atau introductory education.












