Dugaan Telur Ayam HE Penuhi Pasar, Ketua DPP Pinsar: Jangan Asal Tuduh

Telur HE
Ketua DPP Pinsar Singgih Januratmoko (Dok. DPP Pinsar)

JAKARTA, LINES.id – Surat Edaran (SE) Dirjen Peternakan No. 03281/PK.010/F/06/2021 tentang cutting telur hatched egg (HE) usia 19 hari di penetasan (HTC) menuai aksi protes dari para peternak ayam petelur. Pasalnya, mereka yang tergabung dalam Koalisi Penyelamat Peternak Rakyat Nusantara menolak SE tersebut dan menggelar aksi damai di halaman Kantor Bupati Blitar, Jawa Timur, Kamis (10/6/2021).

Mereka berpendapat, pengendalian produksi anak ayam (DOC) Final Stock (FS) ayam ras pedaging dinilai sangat merugikan peternak ayam petelur. Mereka menduga, telur-telur tersebut tidak dimusnahkan. Akibat beredarnya telur ayam ras pedaging membuat harga telur ayam menjadi turun dan tidak stabil. Menurut mereka, harga normal telur ayam pada kisaran Rp20.000-21.000. Akibat adanya SE tersebut, harga telur ayam turun Rp1.000.

Ketua DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Singgih Januratmoko menanggapi aksi unjuk rasa peternak di Blitar, Jawa Timur. Ia mengimbau para peternak tenang dan tak berprasangka buruk kepada Kementerian Pertanian.

Baca juga: Terbukti Efektif, Pinsar Minta Kementan Lanjutkan Kebijakan Perunggasan

Menurut Singgih, SE tertanggal 3 Juni 2021 tersebut bertujuan agar tidak terjadi suplai berlebihan (over supply) DOC broiler, “Surat edaran tersebut dikeluarkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan atau PKH, atas permintaan peternak ayam broiler karena over supply DOC broiler,” ujar Singgih Januratmoko yang juga anggota Komisi VI DPR RI. Hal tersebut bertujuan agar suplai DOC terkendali.

Alasan kedua, telur HE tak mungkin beredar di pasar, karena yang di cutting adalah telur yang sudah ada di mesin penetasan selama 19 hari, “Artinya telur HE tersebut sudah rusak dan sangat tidak mungkin dikonsumsi,” kata Singgih.

Proses Cutting Telur HE

Singgih menegaskan dalam proses cutting dilakukan dengan pengawasan ketat dari Dinas Peternakan dan breeding farm dari kompetitor. Dengan demikian bisa dipastikan, telur HE tak beredar, dijual, bahkan dikonsumsi masyarakat. Proses cutting dengan cara dipecah dan dihancurkan, dilihat oleh saksi hingga selesainya proses pemusnahan telur HE.

Baca juga: Peternak Rugi, Ketum Pinsar Imbau Pemerintah Jaga Harga Perunggasan

“Dari beberapa hal yang kami sampaikan tersebut, sangat tidak mungkin telur HE yang di cutting sesuai surat edaran Dirjen PKH diperjualbelikan sebagai telur konsumsi,” imbuh Singgih. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai SE tersebut, DPP Pinsar berharap semua pihak bisa mencermati kondisi dengan lebih bijaksana.

Semua peternak, menurut Singgih, perlu perlindungan dari pemerintah, terutama dari Kementerian Pertanian, “Apa yang dilakukan Dirjen PKH dengan mengeluarkan surat edaran cutting telur HE tersebut adalah paling efektif, dalam membantu peternak broiler dan tentunya juga tidak berdampak pada pasar telur konsumsi yang ada serta tidak merugikan peternak ayam petelur,” pungkasnya.