Dalam sepekan terakhir, bursa saham dunia menguat tajam. Di New York, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melesat 6,87% secara point-to-point sepanjang pekan ini. Dalam periode yang sama, indeks S&P 500 melonjak 7,32% dan Nasdaq Composite meroket 9,01%. Tidak Cuma di Wall Street, indeks saham Asia pun berpesta, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Minat investor yang tinggi terhadap instrumen berisiko membuat aset-aset aman kehilangan pamor, salah satunya mata uang dolar AS. Dalam sepekan terakhir, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) anjlok hingga 1,85%.
Ke depan, seiring euforia kemenangan Biden, sepertinya investor bakal semakin bernafsu memburu aset-aset berisiko. Artinya, dolar AS akan kian ditinggalkan sehingga depresiasi menjadi sebuah keniscayaan.
“Untuk saat ini, sepertinya sentimen negatif akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan,” ujar Joe Manimbo, Senior Market Analyst Western Union Business Solutions, seperti dikutip dari Reuters.
Baca juga: Rupiah Terbaik di Asia, Investor Berburu Cuan di Indonesia
Baca juga: Pilpres AS, Saham Kelas Kakap Diborong Asing
Rupiah Terus Menguat
Dengan kelesuan dolar AS yang kemungkinan masih akan terjadi, rupiah punya ruang untuk terus menguat. Meski sepanjang pekan ini sudah terapresiasi nyaris 3%, rasanya laju penguatan rupiah masih belum akan berhenti. Apalagi fundamental makroekonomi yang menyokong rupiah juga semakin baik.
Laju inflasi domestik masih lambat, hingga Oktober hanya 1,44% year-on-year (YoY). Ini membuat berinvestasi di rupiah menjadi menguntungkan, karena tidak terlalu ‘termakan’ oleh inflasi.
Kemudian, transaksi berjalan (current account) juga berhasil mencatatkan surplus pada kuartal III-2020, surplus pertama sejak 2011. Tandanya pasokan devisa dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa sangat memadai, tidak lagi kekurangan. Devisa dari pos ini akan mampu membantu penguatan rupiah, karena tidak mudah keluar-masuk seperti investasi portofolio di sektor keuangan alias hot money.
“Seharusnya (rupiah) bisa memiliki ruang untuk terus menguat sejalan dengan neraca perdagangan yang membukukan surplus dalam beberapa bulan terakhir. Bank Indonesia akan memberikan ruang (penguatan) rupiah untuk berlanjut sesuai nilai fundamentalnya,” kata Nanang Hendarsah, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia.












