Namun risiko depresiasi rupiah masih ada. Kembali meningkatnya kasus infeksi Covid-19 di berbagai negara terutama Amerika Utara dan Benua Eropa membuat banyak negara tersebut yang mulai menerapkan kembali lockdown. Memasuki musim dingin, lonjakan kasus infeksi Covid-19 terjadi di banyak tempat seperti AS, Jerman, Prancis dan negara Eropa lain.
Seperti yang sudah dikhawatirkan, musim dingin menjadi periode yang buruk di mana wabah menjadi ganas kembali. Lockdown dengan berbagai skala kembali diterapkan di Eropa terutama di Prancis.
Di Jerman, kanselir Angela Merkel mengatakan bakal menutup bar, restoran, bioskop, teater dan fasilitas publik lain selama empat pekan dimulai sejak 2 November nanti.
Presiden Perancis lakukan penguncian
Beralih ke Perancis. Presiden Emmanuel Macron memberlakukan penguncian nasional baru ketika kasus virus korona melonjak di negaranya. Penguncian akan mulai berlaku mulai hari Jumat.
Baca juga: OJK Tutup 206 Fintech Ilegal, Ini Daftarmya
Baca juga: Catat! Ini Jadwal Pencairan Termin II BLT Karyawan Rp 600 Ribu
Pembatasan akan diberlakukan setidaknya hingga 1 Desember dan serupa dengan yang diberlakukan pada musim semi. Pembatasan baru berarti orang harus kembali tinggal di rumah mereka kecuali keluar untuk membeli barang-barang penting, mencari perhatian medis, atau berolahraga.
Geger kembali diterapkannya lockdown membuat Wall Street anjlok semalam. Tiga indeks saham utama Paman Sam terkoreksi lebih dari 3% dalam sehari. Di saat yang sama indeks dolar AS melonjak tinggi.
Ini menjadi sentimen negatif yang datang dari eksternal untuk rupiah yang termasuk soft currency. Beberapa mata uang Asia lain yang pasarnya buka hari ini juga mengalami depresiasi.
Sebut saja, rupee India yang turun 0,05%, kemudian ada yen yang ambles 0,13%, won Korea Selatan terpangkas tipis 0,01%. Kemungkinan jika pasar buka hari ini rupiah akan bernasib sama dengan mata uang Asia tersebut.
Apalagi jika melihat pasar non-delivery forward (NDF), posisi rupiah terhadap dolar AS melemah jika dibandingkan dengan posisi rupiah di pasar NDF kemarin. Hal ini semakin mengukuhkan jika pasar tetap buka tak menutup kemungkinan rupiah terkoreksi.












