Rekor tersebut bertahan selama satu dekade yang kemudian dipecahkan oleh Lalu Muhammad Zohri dengan mencetak 10,13 detik pada ajang Kejuaraan Atletik Asia 2019.
Pada Mei 2019 di Seiko Golden Grand Prix Osaka, Jepang, Zohri berhasil memperbaiki catatan rekornya menjadi 10,03 detik dengan merebut medali perunggu.
Kunci sukses Suryo Agung
“Semua pencapaian ini berkat doa istri, orang tua, kakak, dan orang-orang yang mendoakan. Dulu waktu Ibu saya berangkat ibadah haji tahun 1996, saya didoakan menjadi pemain bola internasional. Ternyata saya menjadi atlet lari internasional,” ucapnya.
Suryo melanjutkan, ketika latihan fisik dan doa sudah dilakukan, hasilnya serahkan kepada Allah, maka kita akan merasa yakin. Sebagai atlet, kata Suryo, ada menang ada kalah, ada sehat ada cidera, ada yang suka dan tidak suka meskipun kita berprestasi, hal itu manusiawi.
Ia berpesan, seorang atlet ketika melakukan sesuatu harus mempunyai tujuan, ingat targetnya apa dan selalu komunikasikan dengan pelatih, sehingga untuk mencapai target lebih mudah.
Baca juga: Jadwal Belajar dari Rumah TVRI Sabtu 25 Juli 2020, Si Unyil hingga PODBOX Musik
Baca juga: Ratusan Maba Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UMI Ikuti Stadium General secara Virtual
Kunci sukses menurut Suryo adalah ridho orang tua, karena ridhonya orang tua berarti ridhonya Allah. Ia teringat nasihat orang tuanya ketika masih aktif bermain bola, “Le, besok ketika di akhirat yang ditanya bukan kamu sudah memasukkan bola berapa kali. Akan tetapi yang ditanya adalah bagaimana ngajimu, bagaimana sholatmu,” ucapnya.
Begitupula ketika ia sukses menjadi atlet lari, “Le, besok ketika di akhirat yang ditanya bukan dapat berapa medali, berapa keping, tapi yang ditanya adalah bagaimana ngajimu, sholatmu,” kata Suryo.
Maka dari itu, menurutnya kunci sukses selain orang tua adalah ibadah kepada Allah, salah satunya sholat dan mengaji. Suryo menambahkan, “Apapun cabornya, jangan setengah-setengah, jangan sampai pengorbananmu sia-sia. Sehingga pengorbanan terbayarkan dan pantas untuk mendapatkan hasilnya,” tegasnya.
Suryo Agung pensiun

Tahun 2008 ia mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan diterima. Ia pensiun pada tahun 2012 dari atlet lari dan memilih fokus untuk bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kemenpora.
Tahun 2014, ia ditawari menjadi pelatih sepak bola di Persikab Bandung, hingga akhirnya ia bergabung menjadi pemain.
Baca juga: Dibuka Secara Daring, Wagub Bali: Permata CAI LDII Ajang Pembentukan SDM Unggul
Baca juga: Seluruh Kelurahan di Jakarta Masuk Zona Merah Covid-19
Di Kemenpora, ia dipercaya sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Bakat di Asdep Pembibitan dan IPTEK Olahraga. Tugas utamanya fokus untuk mencetak atlet-atlet generasi selanjutnya, terutama di dunia atletik.
Namun, satu bulan yang lalu ia digeser sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Prestasi Daerah. “Tugas utamanya adalah mengembangkan prestasi dengan membina dan mengadakan kejuaraan khususnya di daerah, seperti Kejurda, Kejurprov,” terangnya.
Suryo Agung melalui keahliannya melebarkan sayap dengan mendirikan sekolah atletik yang ia beri nama Suryo Agung Running School. Tujuannya adalah melahirkan atlet sprinter dari Suryo Agung. Sekolah tersebut diperuntukan untuk semua cabor sejak usia 6 tahun.
“Disini atlet akan dilatih dari dasar, seperti berjalan yang benar, lari, lompat, landing lompat. Informasi lebih lanjut dapat dilihat melalui akun isntagram @suryoagungrunningschool,” tukasnya.












