Ancaman Krisis Pangan di Tengah Pandemi Covid-19, LDII Inisiasi Jejaring Kolaborasi Pangan

Krisis pangan
Foto: Ilustrasi petani padi di Indonesia (sumber: cnnindonesia.com)

“Melihat masalah ini kami akan melakukan revisi rencana kerja pemerintah dalam penyusunan anggaran tahun 2021. Dari beberapa rencana, diselipkan pula tentang ketahanan pangan,”ucapnya. Guna menghindari krisis pangan, ketahanan pangan menjadi fokus tersendiri, diantaranya memperbaiki penguatan sistim ketahanan pangan nasional, desentralisasi sistim pangan nasional, stabilitas akses. Peningkatan lingkungan yang kondusif bagi petani pengembangan industri pangan lokal, memperkuat korporasi petani, dan peningkatan ketersediaan pangan dari hasil pertanian pangan laut secara berkelanjutan.

“Dengan pemaparan tersebut, program pangan kita dari sisi produksi dan distribusi. Distribusi ini kita bisa berbicara ke arah pertanian kota seperti sayur-sayuran, juga pertanian desa termasuk makanan pokok dan sayuran sebagai lauk pauk. Karena mata rantai distribusi terputus, maka ada namanya lumbung desa atau usaha tani. Termasuk usaha bersama pangan yang menghubungkan antara produsen dan konsumen yang menghasilkan sayuran,” urainya.

Baca juga: Sikap LDII dalam Menghadapi Wabah Virus Corona yang Mengglobal

Baca juga: Antisipatif Corona, LDII Meminta Warga Mengikuti Arahan dan Petunjuk Pemerintah

 

Jejaring kolaborasi pangan

Dihadapan lebih dari 150 peserta, ia menceritakan jejaring kolaborasi pangan yang ia cetuskan. Jejaring kolaborasi pangan ialah membangun kemandirian pangan dan pengembangan diverisifikasi pangan di masa pandemi Covid-19 dan pasca pandemi Covid-19. Beberapa daerah yang sudah melaksanakan jejaring kolaborasi pangan antara lain Papua, Mojokerto, Jogja dan Makassar.

Di Papua, menjelaskan bagaimana distribusi dari produsen ke konsumen dan transaksi masih menggunakan barter. Mojokerto mengaplikasikan pertanian organik, Jogja menginisiasi penanaman sayuran di kampung-kampung, dan Makassar menggunakan sistem ada barang kemudian dijual lagi. “Jadi sistemnya beli putus harus dijual dan sekarang dia punya masalah baru yaitu harus punya modal,” tambahnya.

Kegiatan-kegiatan tersebut masih sepotong-sepotong dan tidak menyeluruh. “Kelompok tersebut sudah berjalan, kalau kita bisa ikuti ini bagus, karena kita punya potensi,” pungkas Kemal.