Tuding Lamban Tangani Klaster Sampoerna, Hubungan Khofifah Vs Risma Memanas

Sampoerna
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kanan) (sumber: tribunnews.com)
GTPP Covid-19 Surabaya bantah tudingan Khofifah

Bukan hanya Fikser, Koordinator Bidang Pencegahan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Febria Rachmanita juga tak setuju dengan tudingan Gubernur Jawa Timur. Sebab kata Febria, saat dua pegawai pabrik meninggal dunia, pihaknya langsung meminta 506 pegawai lain isolasi mandiri. Tracing juga dilakukan secara intensif untuk menetukan status ODP dan PDP.

“Saat itu, puskesmas melakukan tracing dan ditemukan terdapat data kontak erat dengan karyawan,” kata Febria.

“Kami begitu tahu satu orang sakit langsung kami cari siapa orang dalam pemantauan (ODP) mana dan pasien dalam pengawasan (PDP) nya,” lanjutnya.

Baca juga: Viral! Pasien Positif Corona Kabur Lompat Jendela RS, Begini Ceritanya

Baca juga: 351 Keluarga Isolasi Mandiri Setelah Pasien Positif Corona Kabur

 

“Jadi, tidak benar kalau kami terlambat dalam penanganan Covid-19. Kami pun mencarikan tempat tidur mereka yang positif dan sudah dapat seratus untuk karyawan Sampoerna. Dan memantau sekitar 200 orang keluarga karyawan,” ujarnya.

Adapun dalam kesempatan sebelumnya, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma membongkar kasus corona di pabrik Sampoerna. Mengutip Tribun Jatim, Risma mengatakan bahwa kasus itu berawal dari kebohongan pegawai, dimana dua orang berstatus PDP nekat berangkat bekerja meski telah diminta untuk isolasi.

Sehingga upaya tracing digencarkan dan ratusan karyawan menjalani rapid test serta karantina di salah satu hotel di Surabaya. Sementara rapid test menunjukkan adanya 100 karyawan positif, dengan 34 positif swab test gelombang pertama, dan akan dilakukan swab test gelombang kedua.