Ustaz Endri: Begini Tata Cara Aqiqah Sesuai Sunah Nabi

  • Bagikan
Aqiqah
Ust. Endri Sulistyo saat memberikan tausiah agama di Masdanis, Senin (10/5/2021)

SLEMAN, LINES.id – Setelah bayi lahir, dalam ajaran agama Islam ada sunah yang biasa dilakukan. Yakni ayahnya yang beragama Islam supaya segera mengadzani bayi di telinga sebelah kanan dan mengiqomatinya di telinga sebelah kiri.

“Di dalam hadits Tirmidzi, saat Fatimah binti Muhammad melahirkan Hasan dan Husain, Nabi (Nabi Muhammad -red) mengadzaninya sebagaimana adzan salat. Tujuannya agar bayi terhindar dari godaan syetan. Pelan-pelan saja adzannya,” kata Ustaz Endri Sulistyo saat memberikan tausiah agama di Masjid Dani Salamah Sambisari (Masdanis), Purwomartani, Kalasan, Sleman, Senin (10/5/2021).

Ust. Endri menambahkan, apabila ayah kandungnya belum mampu melafalkan adzan, maka dapat meminta tolong pengurus masjid atau jamaah lainnya. Yang laki-laki, bukan yang perempuan. Setelah itu, aqiqah ditunaikan.

“Aqiqah sendiri berasal dari kata عَقَّ yang berarti melukai. Adapun yang dipraktikkan pada jaman dahulu saat masa jahiliyah, jika ada kelahiran, maka dipotongkan kambing. Darahnya lalu dioles-oleskan di seluruh tubuh bayinya,” urai Ustaz Endri sambil mengenang masa-masa sebelum kedatangan agama Islam di Mekah.

Setelah Nabi Muhammad diutus, ada perbedaan dalam praktik aqiqah. Menurut Ustaz Endri, urutan aqiqah yakni membacakan doa aqiqah, memotong rambut bayi secara simbolis dan diusahakan dalam hitungan ganjil, memberi nama, dan makan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

“Memberikan nama itu yang baik-baik, karena nama mengandung doa yang menyertainya dalam kehidupan. Bisa dengan nama-nama nabi atau nama-nama lain dalam ejaan Bahasa Indonesia yang artinya bagus-bagus,” terang Ustaz muda yang sering mengisi pengajian di kampus-kampus Yogyakarta ini.

Baca juga: Tingkatkan Kinerja Pelayanan, KSPPS-P BUPELUR Gelar Pelatihan

Baca juga: Mempersungguh Belajar Ilmu Agama, Sebagaimana Orang Membeli Sapi

 

H Abdul Alim (berpeci hitam) memotong rambut Zahwa Adiva Ramadhani, di dampingi Kusnadi (kanan) dan Atus Syahbudin SHut MAgr PhD (kiri)

Bersamaan dengan itu, Takmir Masdanis menyambut jamaah barunya Zahwa Adiva Ramadhani melalui aqiqah pada malam ke-29 Ramadan 1442 H. Aqiqah perdana ini diselenggarakan masih dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. Zahwa yang lahir pada 27 April lalu merupakan putri pertama dari Kusnadi dan Neva Purwanti SGiz.

Pada masa pandemi ini tentu perlu pengaturan makan bersamanya. Terlebih lagi dalam bulan Ramadan, sehingga makanan hasil masakan kambing yang disembelih bisa dibagikan ke rumah-rumah jamaah, sekaligus meraih pahala bersedekah untuk orang yang berpuasa. Cara ini menurut Ustaz Endri diperbolehkan.

“Kami sudah memusyawarahkannya dan sepakat membagikannya ke rumah-rumah saja, dibantu beberapa remaja masjid. Cara ini untuk menghindari makan bersama dalam kerumunan di Masdanis,” jelas H Abdul Alim selaku takmir Masdanis. Keluarga Kusnadi dan pengurus takmir lainnya pun sepakat.

Ustaz Endri yang aktif sebagai mutawwif ini pun menjelaskan pula bahwa sunahnya aqiqah itu dengan memotong 2 kambing apabila bayi yang dilahirkan laki-laki. Apabila bayinya perempuan, maka cukup 1 kambing.

“Kambing yang dipotong agar memenuhi syarat-syarat hewan kurban. Hanya saja kambingnya tidak harus jantan. Boleh jantan maupun betina,” tambah Ustaz Endri.

Pelaksanaan aqiqah selama itikaf malam ke-29 Ramadan ini pun berjalan lancar. Beberapa pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman juga diundang. Turut memotong rambut bayi secara simbolis Dewan Penasehat LDII H Joko Mulyono, H Abdul Alim, Ustaz Endri Sulistyo, Sekretaris DPW LDII DIY Atus Syahbudin SHut MAgr PhD dan Ustaz Supriyadi.

  • Bagikan