Pilpres AS, Harga Emas Dunia Diramal Ambles Lagi

Ilustrasi Emas (Foto: kompas.com)

Indeks Nasdaq paling terkoreksi yakni sebesar 3,73% di level 11.004, sementara indeks S&P 500 juga ambles 3,53% di posisi 3.271. Adapun indeks indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) juga terjerembab sebesar 3,43% di level 26.519.

Namun menurut Ghali, pasar sebetulnya sudah memperhitungkan (price in) adanya dukungan bagi Biden, lewat aksi yang disebut Blue Wave, alias Gelombang Biru.

“Selama beberapa minggu terakhir, pasar telah price-in adanya Gelombang Biru. Itu adalah kemenangan bagi pihak Demokrat untuk kursi presiden dan senat. Risiko, terutama untuk emas, adalah emas akan menjadi sesuatu yang diperebutkan. Dan itu mungkin benar untuk pasar global,” kata Ghali.

“Dan saat kita menuju beberapa hari terakhir sebelum pemilihan, ada ketakutan akan skenario tipe 2016, di mana peluang pasar yang berlaku ialah emas akan tergelincir dengan sangat cepat.”

“Tentu ada risiko melakukan kesalahan pada hari pemilihan, dan itu mengarah pada keyakinan yang rendah. Dan sebagai hasilnya, kami melihat volatilitas yang lebih tinggi pada emas,” kata Ghali.




Baca juga: NASA Temukan Harta Karun Luar Angkasa Senilai Rp136 Juta Kuadriliun

Baca juga: Dampak Libur, Rupiah Dolar Bernasib Baik

 

Pialang komoditas senior RJO Futures yang berbasis di Chicago, Bob Haberkorn, menambahkan bahwa jika aksi jual di pasar saham menjadi lebih buruk, harga emas mungkin akan terus turun dan menguji level US$ 1.850-1.855/troy ons terlebih dahulu dan kemudian turun lagi ke US$ 1.825/troy ons.

Harga Level Support

Sentimen lockdown dan Pilpres AS ini membuat volatilitas harga emas semakin menjadi. Ahli strategi komoditas TD Securities yang berbasis di Kanada, Daniel Ghali, mencatat bahwa harga level support (batas tahanan bawah) jangka panjang emas pada sisi negatifnya berada di US$ 1.820/troy ons.

“Tanpa ragu, volatilitas ini adalah contoh kegelisahan pemilu. Berita tentang lebih banyak penguncian wilayah di Eropa juga salah satu alasan mengapa dolar menguat, dan pada gilirannya, terjadi penjualan emas [yang memicu harga turun],” kata Ghali, dikutip Kitco, Jumat (30/10/2020).

Selain itu, sentimen aksi jual bersih di pasar saham pada Rabu juga menjadi cerminan pasar tengah kalut. Data CNBC International mencatat, pada penutupan perdagangan Rabu (28/10) atau Kamis pagi waktu Indonesia, tiga indeks bursa saham Wall Street AS ‘kebakaran’.

Indeks Nasdaq paling terkoreksi yakni sebesar 3,73% di level 11.004, sementara indeks S&P 500 juga ambles 3,53% di posisi 3.271. Adapun indeks indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) juga terjerembab sebesar 3,43% di level 26.519.

Namun menurut Ghali…