WR III UNM Hadiri Ramah Tamah Fakultas Psikologi UNM

  • Bagikan
UNM
Ramah tamah Fakultas Psikologi UNM, Sabtu (10/4/2021)

MAKASSAR, LINES.id – Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan acara ramah tamah di Hotel Maxone, Jalan Taman Makam Pahlawan, Makassar (10/4/2021).

Kegiatan ramah tamah dihadiri oleh Dekan Fakultas Psikologi UNM Dr M Daud MSi, Ketua Senat Fakultas Psikologi, para Wakil Dekan di lingkungan Fakultas Psikologi, WD I FSD, WD III FMIPA UNM, WD III FIP UNM, WD III FT UNM, Ketua IKA Fakultas Psikologi, para dosen di lingkungan Fakultas Psikologi UNM, para Ibu Dharma Wanita, para orang tua, dan para wisudawan.

Mengawali sambutannya, Prof Dr Sukardi Weda, yang juga Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNM mewakili Rektor UNM menyampaikan permohonan maaf Rektor UNM Prof Dr Ir H Husain Syam MTP IPU karena pada saat yang bersamaan ada kegiatan ramah tamah, yaitu ramah tamah Fakultas Bahasa dan Sastra di hotel Claro dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di hotel Four Points by Sheraton.

UNM
Wakil Rektor III UNM Prof Dr Sukardi Weda saat memberikan sambutan pada Ramah Tamah Fakultas Psikologi UNM, Sabtu (10/4/2021)
Sambutan WR III UNM

Sebagai pribadi dan unsur pimpinan UNM, Sukardi Weda menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan Fakultas Psikologi UNM beserta jajarannya dan panitia pelaksana atas terselenggaranya ramah tamah ini.

“Ramah tamah ini sebagai ajang silaturahmi antara dosen dan orang tua mahasiswa, dan antara dosen dan alumni/mahasiswa, dan tentu ramah tamah ini menjadi ajang kebahagiaan/kegembiraan bagi orang tua dan putra putrinya,” ucapnya.

Sukardi Weda menambahkan, dalam proses menimba ilmu di UNM, mungkin ada hal-hal yang membuat kurang mengenakkan, membuat jengkel, tetapi sesungguhnya itu semua adalah proses untuk mematangkan, mendewasakan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan kecerdasan spiritual anak-anakku semua.

“Saya meyakini tidak ada orang tua yang ingin menyusahkan putra-putrinya. Demikian halnya, kami di UNM, baik sebagai pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan tentu tidak akan menyusahkan anak-anakku semua,” jelasnya.

Baca juga: WR III UNM Berikan Materi pada Sekolah Kepemimpinan HMI

Baca juga: Wakil Rektor III UNM Hadiri Hari Filateli & HUT PFI ke-99

 

Kami, kata Sukardi Weda, baik sebagai pribadi maupun sebagai unsur pimpinan UNM, dengan kerendahan hati kami yang paling dalam menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan kami, baik yang disengaja maupun yang tidak disegaja.

“Alhamdulillah setelah kurang lebih 4 tahun Bapak/Ibu menitipkan putra-putrinya kepada kami di UNM, dan pada hari ini kami mengembalikan putra-putri Bapak/Ibu, semoga dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang diperoleh di UNM dapat diterapkan di masyarakat. Bukan berarti dengan berakhirnya kuliah anak-anakku semua, silaturahmi juga menjadi putus, silaturahmi perlu tetap dirajut. Kami bahkan bangga jika anak-anakku kembali melanjutkan studinya pada jenjang S2 dan UNM dapat menjadi tempat yang tepat untuk program magister dan doktor. Mengapa harus S2, karena pendidikan adalah investasi masa depan. Oleh karena itu, life long education adalah sebuah keniscayaan,” tuturnya.

Meraih Kelas Sosial Melalui Pendidikan

Untuk mengangkat derajat dan stratifikasi sosial seseorang, maka pendidikanlah jalannya. Di masyarakat kita ada berbagai golongan atau kelas, ada kelas atas-atas, ada kelas menengah atas, kelas menengah, kelas menengah bawah, kelas bawah, dan kelas bawah-bawah. Contoh kelas atas Menteri Gubernur, Jenderal, Professor dan contoh kelas bawah-bawah seperti pekerja serabutan. “Oleh karena itu, mari kita berupaya meraih kelas atas atas melalui pendidikan,” tegasnya.

Kalau sekarang usia anak-anakku 22 tahun, kalau lanjut S2 sekitar 2 tahun dan S3 sekitar 3 tahun, maka di usia 27 tahun sudah doktor. Dengan pendidikan tinggi yang dimiliki, akan menjadi aset bangsa ini menuju Indonesia emas 2045. Di 2045, anak-anakku berumur 46 tahun, dan inilah masa masa keemasan (golden age), masa produktif, dan ini sejalan dengan bonus demografi.

“Pesan saya kepada anak-anakku, para alumni, untuk diperhitungkan di masyarakat, maka kerjakanlah minimal 5 hal ini, yaitu perbaiki kinerja, silaturahmi, integritas, jangan money oriented, dan perluas jaringan (networking), serta jadikan kearifan lokal kita (sipakatau sipakalebbi, sipakainge, dan 3 M macca, malempu, dan magetteng) sebagai sumber untuk bertutur dan berperilaku di masyarakat,” tutup Sukardi Weda.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *