Oleh karena itu, hikmah dari Covid-19 ini, kebutuhan pangan minimal bisa dihasilkan secara mandiri. Tentunya dengan nutrisi yang berkualitas sehingga melahirkan generus bangsa yang berkualitas. “Kita harus berubah dan harus ada yang kita lakukan untuk menggapai apa yang menjadi permasalahan ketahanan pangan saat ini,” ajak Ketua tim kajian dari beberapa tim ini.
Ketahanan pangan dimulai dari keluarga
Berbicara ketahanan pangan, kita mulai dari keluarga kita. “Jadi, keluarga sangat penting karena sebetulnya karya besar dimulai dari sini. Oleh karena itu, bagaimana kita membangun kemandirian pangan yang berkualitas, serta cukup itu dari keluarga kita. Bagaimana menghasilkan keluarga sehat dan sejahtera, ini akan melahirkan generus yang berkualitas. Tentu ini tidak lepas dari bagaimana kualitas asupan makanan yang bergizi yang kita berikan kepada keluarga kita,” papar Prof Rubiyo yang juga sebagai tim ahli pengembangan komoditas kopi.
Selanjutnya kita berharap keluarga bisa mewujudkan rumah yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Kenapa? Lulusan S3 Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjelaskan, kalau kita bertanam di pekarangan kita, di depan rumah, di samping rumah, tembok rumah, pagar rumah itu akan menjadi asri. Dan oksigen juga akan terus tersedia sehingga lingkungan rumah kita akan menjadi sehat.
Baca juga: Pandemi Corona, Bagaimana Ketahanan Pangan di Indonesia?
Baca juga: LDII Mimika Bagikan Pakaian Barokah di Bulan Ramadan
Ini juga akan mewujudkan rumah tangga yang mempunyai nilai ekonomi, sosial dan budaya. Sebagai ilustrasi, seorang istri ketika berbelanja sayur tidak cukup 15 ribu, belum lagi lauk dan berasnya. Kalau istri memikirkan hal itu, bisa menggantinya dengan menghasilkan sayur mayur di rumah, sehingga uang tersebut bisa ditabung. “Ketika kita bisa menerapkan itu, ujungnya adalah keluarga bisa menciptakan generasi yang berkualitas, unggul dan berdaya saing tinggi,” ucapnya.
Manfaat tanam pangan…












