Banyak peserta yang menjadi imam tarawih di rumahnya
Host Dr Nurjannah Abna menambahkan, semoga kasus Covid-19 segera berakhir, khususnya di UMI. Insyaa Allah sesuai edaran Rektor UMI awal Juni 2020, kampus UMI akan dibuka. Walaupun tetap akan dibicarakan bersama pimpinan UMI lainnya. Selain itu, dikemukakan adanya keraguan, apakah sholat di masjid atau di rumah. “Ada juga kaidah ushul fiqhi yang menyatakan “lebih baik menghindari dari pada mengobati”,” jelasnya.
Alif, peserta dari Selayar menyatakan dia selalu melaksanakan sholat tarawih di rumah, bahkan ia juga biasa menjadi imam tarawih. Begitu pula Yusril, yang hampir tiap malam menjadi imam tarawih di lingkungan keluarganya. Bahkan ia sudah banyak menghafal surah-surah panjang dalam Alquran, dan membacanya saat ia menjadi imam tarawih.
Namun demikian, Host Dr M Ishaq Shamad menyarankan, jika menjadi imam tarawih berjamaah, sebaiknya ayatnya jangan panjang-panjang bacaannya, sebab ada makmum yang variatif, ada orang tua, dan anak-anak. Sementara itu, Yusran menyatakan ia belum pernah menjadi imam tarawih, tapi ia selalu menjadi makmum, sebab ia masih takut bacaannya salah.
Baca juga: Pesantren Ramadan Virtual UMI: Tanda-tanda dan Cara Meraih Lailatul Qadr
Baca juga: Pesantren Ramadhan Virtual UMI: Hikmah Nuzul Alquran
Sementara itu, Taufiq melaksanakan tarawih di masjid kompleksnya di Luwu, dengan menggunakan protokol ibadah di masjid. Semua jamaah memakai masker dan tersedia hand sanitizer, bahkan setiap hari lantai masjid dibersihkan disinfektan. Jamaahnya juga berjarak safnya. “Setiap saat selalu ada penyuluhan untuk menjaga jarak dan menjaga kebersihan diri, dan selalu diukur suhunya,” jelasnya.












