Konsepsi Pendidikan Karakter Menteri Nadiem Telah Terlaksana di UMI Selama 20 Tahun

Pendidikan karakter
Foto: Program Pencerahan Qalbu mahasiswa UMI
Rektor UMI: Pencerahan Qalbu UMI jadi basis pendidikan karakter nasional

Rektor UMI, Prof Dr H Basri Modding SE MSi, dalam berbagai kesempatan menargetkan, Program Pencerahan Qalbu UMI insya Allah akan menjadi basis pendidikan karakter nasional. “Kurikulum semua perguruan tinggi se Indonesia pada dasarnya memiliki kesamaan, tapi yang membedakan UMI dengan yang lain yaitu Pendidikan Karakter berbasis Pesantren. “Dengan program ini, kita mengharapkan UMI menjadi pusat pendidikan Karakter Nasional,” ungkap Prof Basri di ruang kerjanya, Menara UMI, Rabu (6/5/2020).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI ini menjelaskan, Pencerahan Qalbu tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa UMI. Tetapi kegiatan tersebut diwajibkan bagi seluruh civitas akademika UMI serta terbuka bagi aparat pemerintah, perguruan tinggi lain, dan masyarakat luas. Areal pesantren 20 ha dilengkapi fasilitas dengan daya tampung sebanyak 750 orang.

Baca juga: Soal dan Jawaban TVRI Sahabat Pelangi Kelas 1-3 SD 6 Mei 2020

Baca juga: Hari Pendidikan Nasional 2020, Angkat Tema “Belajar dari Covid-19”

 

Berbagai instansi pemerintah dan Polri serta perguruan tinggi negeri dan swasta telah mengikuti Program Pencerahan Qalbu. Hal ini sebagaimana tujuan kampus yang berdiri tahun 1954 ini adalah mencerdaskan anak bangsa untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang berdaya saing dengan berkarakter unggul. Sumberdaya manusia yang dihasilkan UMI memiliki karakter moral dan juga karakter kinerja sesuai dengan visinya “melahirkan manusia berilmu amaliah, beramal ilmiah dan berakhlaqul karimah.

Ia menjelaskan pentingnya pendidikan karakter khususnya bagi mahasiswa yang nanti akan memasuki dunia usaha. Hasil survei yang dilakukan terhadap 150 perusahaan terkemuka di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kriteria utama calon pekerja yang diminati oleh perusahaan besar adalah pelamar yang berintegritas. Kemudian disusul dengan kriteria kompetensi kinerja calon pelamar.

Jadi, yang dibutuhkan oleh dunia kerja bukan hanya kehandalan intelejensia. Tetapi pilihan prioritasnya adalah manusia yang berkarakter relijius, menjunjung tinggi kebenaran dan memiliki kesalehan sosial.