Prakiraan BMKG
BMKG sebelumnya mengungkapkan, pada awal musim kemarau tahun 2020 dimulai bervariasi. Sebanyak 19,3 persen daerah ZOM diprediksi akan memasuki kemarau lebih awal, sedangkan sebanyak 37,4 persen ZOM sama seperti biasanya dan sebanyak 43,3 persen ZOM lebih lambat dari biasanya.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, kemarau pada 2020 secara umum diprediksi lebih basah daripada musim kemarau 2019. Puncak musim kemarau di sebagian besar daerah zona musim diprediksi akan terjadi pada Agustus 2020.
“Meskipun demikian, perlu diwaspadai 30 persen ZOM yang diprediksi akan mengalami kemarau lebih kering dari normalnya,” jelas Dwikorita Karnawati di Jakarta, Selasa (24/3/2020).
Baca juga: Jokowi: Lima Skema Perlindungan dan Pemulihan UMKM di Tengah Pandemi Covid-19
Baca juga: Presiden Jokowi Pertimbangkan Lagi Ganti Cuti Lebaran ke Akhir Juli
Dari total 342 zona musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 17,0 persen diprediksi akan mengawali musim kemarau pada April 2020. Yaitu di sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa.
Sejumlah 103 ZOM (30,1 persen) akan mengalami kondisi kemarau ‘Bawah Normal (Kemarau lebih kering), yaitu curah hujan musim kemarau lebih rendah dari rerata klimatologis). 42 ZOM (12,3 persen) akan mengalami ‘di atas normal’ (kemarau lebih basah), yaitu curah hujan lebih tinggi dari reratanya).












