Perubahan pola belanja pelanggan yang kini hanya berfokus pada belanja kebutuhan pokok serta adanya kenaikan harga barang juga menjadi penyebab penurunan kinerja.
“Perseroan memprediksi kinerja untuk sisa tahun ini akan terus terdampak secara signifikan oleh pandemi. Namun, Perseroan tetap yakin dengan rencana strategisnya untuk bisnis di masa depan,” kata manajemen.
Ramayana
Tak jauh berbeda, kinerja keuangan RALS pada akhir periode September 2020 ini malah dinodai dengan tinta merah lantaran perusahaan terpaksa membukukan kerugian senilai Rp 95,21 miliar. Padahal pada akhir September 2019 lalu perusahaan masih mengantongi keuntungan senilai Rp 612,42 miliar.
Penyebab utama kerugian ini adalah turunnya pendapatan yang signifikan menjadi senilai Rp 1,90 triliun di akhir III-2020, dibanding dengan pendapatan perusahaan pada akhir kuartal ketiga tahun lalu yang sebesar Rp 4,42 triliun.
Penurunan terjadi pada kedua sumber pendapatan perusahaan. Penjualan barang beli putus menjadi sebesar Rp 1,56 triliun dari sebelumnya Rp 3,61 triliun. Komisi penjualan konsinyasi juga ikut turun menjadi Rp 334,90 miliar dari sebelumnya Rp 808,22 miliar.
Baca juga: Dampak Libur, Rupiah Dolar Bernasib Baik
Baca juga: Diramal Anjlok Lagi, Emas Drop di Bawah US$ 1.900/oz
Beban pokok penjualan hingga beban penjualan mengalami penurunan karena turunnya penjualan perusahaan. Beban penjualan turun menjadi Rp 1,09 triliun dari sebelumnya Rp 2,42 triliun, beban penjualan turun menjadi Rp 188,35 miliar dari sebelumnya Rp 290,25 miliar. Sayangnya, perusahaan mencatatkan beban keuangan yang tinggi sebesar Rp 2,48 miliar dari sebelumnya nilai ini tak ada di periode sebelumnya.
“Terjadi penurunan kas dan setara kas, serta deposito berjangka yang dipakai untuk membayar dividen kas dan utang usaha pihak ketiga yang mengakibatkan sisi utang usaha berkurang dibandingkan periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019,” tulis manajemen RALS.
Nilai kas dan setara kas perusahaan turun menjadi Rp 1,87 triliun dari posisi akhir Desember tahun lalu yang senilai Rp 2,20 triliun. Sedangkan nilai deposito berjangka turun menjadi sebesar Rp 311,92 miliar dari sebelumnya akhir tahun lalu yang senilai Rp 714,60 miliar.
Namun demikian, terjadi penurunan signifikan pada posisi liabilitas jangka pendek perusahaan menjadi senilai Rp 592,47 miliar dari posisi akhir 2019 yang sebesar Rp 1,13 triliun.
Matahari
Emiten ritel Matahari Department Store juga membukukan rugi bersih senilai Rp 616,60 miliar per kuartal III-2020. Nilai ini berbanding terbalik dengan periode akhir September 2019 di mana perusahaan masih mengantongi keuntungan senilai Rp 1,18 triliun.
Pendapatan perusahaan pun terjun…












