Adapun pada pekan depan, 3 November, akan ada pemilihan presiden AS yang mempertemukan petahana dari Partai Republik, Donald Trump, dengan lawannya dari Partai Demokrat Joseph ‘Joe’ Biden. Analis mengatakan kepada Kitco bahwa volatilitas harga emas semakin menjadi jelang Pilpres AS.
“Tanpa ragu, volatilitas ini adalah contoh kegelisahan pemilu. Berita tentang lebih banyak penguncian di Eropa juga salah satu alasan mengapa dolar menguat, dan pada gilirannya, terjadi penjualan emas [yang memicu harga turun],” kata ahli strategi komoditas TD Securities Daniel Ghali.
Gelombang biru
Selain itu, dilansir CNBCIndonesia, sentimen aksi jual bersih di pasar saham pada Rabu juga menjadi cerminan pasar tengah kalut. Namun menurut Ghali, pasar juga sudah memperhitungkan (price in) adanya dukungan bagi Biden, lewat aksi yang disebut Blue Wave, alias Gelombang Biru.
“Selama beberapa minggu terakhir, pasar telah price-in adanya Gelombang Biru. Itu adalah kemenangan bagi pihak Demokrat untuk kursi presiden dan senat. Risiko, terutama untuk emas, adalah emas akan menjadi sesuatu yang diperebutkan. Dan itu mungkin benar untuk pasar global,”kata Ghali.
Baca juga: Catat! Ini Jadwal Pencairan Termin II BLT Karyawan Rp 600 Ribu
“Dan saat kita menuju beberapa hari terakhir sebelum pemilihan, ada ketakutan akan skenario tipe 2016, di mana peluang pasar yang berlaku ialah emas akan tergelincir dengan sangat cepat.”
“Tentu ada risiko melakukan kesalahan pada hari pemilihan, dan itu mengarah pada keyakinan yang rendah. Dan sebagai hasilnya, kami melihat volatilitas yang lebih tinggi pada emas,” kata Ghali.
Pialang komoditas senior RJO Futures Bob Haberkorn menambahkan pasar hampir pasti memilih Demokrat pada poling pemungutan suara dalam beberapa pekan lalu, tetapi prospek itu tampaknya berubah dengan cepat.
“Jika Anda bertanya kepada saya dua minggu lalu, siapa yang akan menang, saya akan memberi tahu Anda, Biden. Jika Anda bertanya kepada saya hari ini, saya mulai berpikir Trump akan menarik hal ini [memenangkan pilpres], dengan beberapa data yang sudah ada,” kata Haberkorn.
Harga level support…












