JAYAPURA, LINES.id – Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua melaksanakan Reses pada masa sidang II Tahun 2020 di aula Kantor Kementerian Agama Kota Jayapura, Kamis (25/6/2020). Mengangkat tema “Membangun Kerukunan Umat Beragama di Masa Pandemi Covid-19 untuk Papua Tanah Damai”.
Turut hadir jajaran Polda Papua dan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Papua Ustaz Saifullah.
MRP sebagai lembaga kultural masyarakat asli Papua mengajak paguyuban masyarakat dan tokoh agama, serta Kapolda Papua, duduk bersama menjaga kerukunan umat beragama di tengah pandemi corona.
Diskusi yang diusung pada masa sidang Reses II MRP, juga untuk mewujudkan Papua tanah damai. Anggota MRP Pokja Agama, Tony Wanggai menjelaskan barometer dinamika sosial di Papua berada di Kota Jayapura. “Oleh sebab itu perlu dilakukan silaturahmi antar paguyuban nusantara, serta ormas agama untuk bersama mencari solusi damai,” ucapnya.
Baca juga: Hasil Modal Nekat, Jadi Narasumber Kick Andy
Baca juga: LDII Sosialisasi UU Pesantren, Kakanwil Kemenag Jatim: Pesantren adalah Indices Culture of Indonesia
Wujudkan Papua Tanah Damai
Dalam diskusi tersebut, MRP ingin mendengar langsung aspirasi dari masyarakat ketika terjadi unjuk rasa rasisme yang berujung anarkis di sejumlah daerah di Papua.
“Kita semua menjadi korban dan hingga kini belum ada konpensasi dari pemerintah. Oleh sebab itu kami mencoba menerima aspirasi dan keluhan, sehingga dari hasil aspirasi ini dapat dirumuskan menjadi sebuah rekomendasi dan masukan dari MRP untuk pemerintah. Agar pemerintah melakukan rekonsilisasi dengan penguatan forum kebangsaan yang ada di Kesbangpol,” papar Tomy.
Menurut Tomy, selama ini revitalisasi pasca kerusuhan tersebut tak berjalan. Sehingga jika ada forum kebangsaan, para paguyuban dapat melakukan komunikasi dengan baik dan sangat mudah diketahui permasalahan apa yang sedang terjadi.
“Saya melihat dari aspirasi yang disampaikan paguyuban, segala kerugian bentuk materi sampai saat ini belum serius tangani pemerintah. Bahkan sudah sampai ketemu Presiden dan belum ada tanggapan. Dari pertemuan ini akan dibuatkan evaluasi progres penyelesaian resolusi konflik dan rehabilitasi dari korban yang terkena dampak demo rasisme yang berujung anarkis,” tuturnya.
Baca juga: Selain Aktif Mengaji, Warga LDII Tanahlaut Jaga Kesehatan dengan Gowes Bareng
Baca juga: Satgas Covid-19 KNPI Kediri Sosialisasi di Pondok Pesantren LDII
Reses MRP berjalan baik
Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw menuturkan diskusi pada masa Reses MRP dilakukan dengan baik. Sebab masing-masing komunitas paguyuban dan tokoh agama duduk bersama, membangun sinergi komunikasi, sekaligus membuat sebuah saran tindak yang konstruktif.
“Ini sebuah upaya inisiasi yang sangat baik, jadi jika ingin mencurahkan kekecewaan atau ketidakpuasan dalam pelayanan negara, bisa saling bicara baik dan melengkapi serta mendapatkan gambaran yang jelas dalam forum seperti ini,” kata Waterpauw.
Waterpauw berharap pemerintah memiliki kelembagaan yang dimotori oleh Kesbangpol dan dapat aktif mengakomodir semua tokoh dan membangun komuniksi bersama dengan para tokoh dan paguyuban masyarakat.
“Para tokoh dan paguyuban ini adalah corong pemimpin utama yang bersentuhan dengan masyarakat, apa yang diberitahukan itu yang akan mereka teruskan,” katanya.
Baca juga: Bangun Kebersamaan, LDII Timika Kerja Bakti Rutin
Baca juga: Warga LDII Berhasil Panen Kacang Tanah di Lahan Kering, Ini Kisahnya
Misalnya dengan kejadian kerusuhan rasisme beberapa waktu lalu yang terjadi di Papua akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi sejua pihak.
Kapolda juga berharap, para pemimpin umat tak membuat pembedaan karena dikhawatirkan dapat disalahartikan oleh pengikutnya.












