Dosen FPIK UMI Latih Petambak Pangkep Membuat Pakan Udang dan Ikan dari Bahan Baku Lokal

pakan udang
Dosen FPIK UMI memberikan pelatihan kepada petambak Pangkep untuk membuat pakan udang dan ikan dari bahan baku lokal, Rabu (7/12/2022).

PANGKEP, LINES.id – Pemanfaatan lahan untuk kegiatan budidaya tambak yang besar menyebabkan kebutuhan pakan semakin meningkat. Biaya pakan yang tinggi masih menjadi permasalahan mendasar bagi pelaku usaha budidaya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pengembangan pakan mandiri berkualitas, karena selama ini bahan baku pakan sebagian besar masih diimpor. Para pembudidaya ikan didorong untuk menjadi kreatif dan berinovasi, tidak hanya andal mengelola tambak, tetapi juga diharapkan mampu menghasilkan pakan secara mandiri sehingga tidak tergantung sepenuhnya pada pakan komersil.

Komponen pakan pada budidaya ikan/udang sekitar 60-70 % dari biaya produksi, sehingga alternatif bahan baku dari sumber lokal sangat penting, tidak hanya mengurangi ketergantungan pada import, tetapi juga dapat menekan biaya produksi. “Banyak sekali sumber protein tersedia di lapangan yang harganya murah, bahkan menjadi hama, sehingga pemanfaatannya, tidak saja menekan biaya produksi, tetapi juga sekaligus dapat mengontrol hama di tambak, salah satu di antaranya adalah ikan molly (Poecilia latipinna Lesueur, 1821),” kata Dr Ir H Andi Tamsil MS IPM saat melakukan pengabdian kepada masyarakat (PkM) di Kabupaten Pangkep.

Ia menambahkan, ikan ini banyak dijumpai di saluran tambak sehingga mengganggu aliran air dan jika lolos masuk ke dalam tambak akan menjadi kompetitor ruang, makanan, oksigen dan bahkan dapat memangsa benih ikan dan udang peliharaan.  Potensi ikan molly ini dapat diolah menjadi lebih bermanfaat yaitu menjadi tepung ikan sebagai sumber protein hewani.

Menurutnya, ikan molly memiliki kandungan gizi yang tinggi yaitu protein, asam amino dan lemak esensial yang tinggi sehingga sangat berpeluang dijadikan sebagai sumber protein. Selama ini, petambak menganggap ikan molly sebagai hama yang yang mengganggu proses budidaya, sehingga perlu diberi pemahaman agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk pembuatan pakan ikan.

Baca juga: Dosen UMI Gelar Pelatihan Sistem Administrasi Pemerintahan pada Aparat Desa Pucak

“Pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi mitra untuk dapat memanfaatkan ikan molly menjadi produk tepung ikan dan membuat pakan ikan/udang. Produk tepung ikan tersebut sudah dapat bernilai ekonomis karena dapat dijual sebagai bahan baku pakan ternak ayam atau itik,” jelas Andi Tamsil.

Selanjutnya untuk menjadi pakan ikan, maka tepung ikan molly tersebut dicampur dengan bahan-bahan baku lainnya seperti tepung jagung, dedak halus, tepung bungkil kopra, tepung jagung, vitamin dan mineral. Bahan-bahan tersebut dicampur selanjutnya dicetak menjadi pellet dan dijadikan pakan ikan.

Mitra telah diberi pelatihan pengolahan ikan molly menjadi produk tepung ikan dan membuat pellet dari bahan tepung ikan molly sebagai pakan ikan atau udang. Dengan demikian mitra dapat menghasilkan pakan secara mandiri sehingga tidak lagi tergantung pada pakan komersil.

Ikan molly adalah ikan yang berukuran kecil dan ditemukan sebagai hama di areal pertambakan. Karena ukurannya yang relatif kecil maka sangat mudah lolos masuk ke dalam tambak budidaya ikan dan udang walaupun pencegahannya telah dilakukan dengan cara memasang jaring di pintu pemasukan air. Selain itu ikan ini sangat cepat berkembang biak.

Tepung ikan molly mempunyai kuantitas dan kualitas protein yang sangat baik. Tepung ikan molly mengandung protein 66,40%; lemak 12,52%; serat kasar 0,80%; abu 15,51% dan kadar air 3,70 (Hasnidar dan Tamsil, 2020).  Kadar protein tepung ikan molly memenuhi syarat sebagai sumber protein berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2715-1996) pada level mutu I yaitu 65% min.

Selanjutnya dijelaskan bahwa ikan molly memiliki 10 asam amino yaitu lisina 4,99%; leusina 4,27%; fenilalanina 2,64%; valina 2,63%; treonin a2,50%: dan histidina 1,49%; selanjutnya asam lemak esensial terdiri dari kelompok asam lemak omega-3: asam dekosakeksanoat (DHA) 0,09%; asam eikosapentanoat (EPA) 0,03% dan asam linolenat (HUFA) 0,21%; kelompok asam lemak omega 6: asam linoleat (LA) 0,25% dan arakidonat (AA) 0,04%.

Baca juga: Dosen UMI Beri Pelatihan Petambak Ikan Nila di Desa Tamangapa, Pangkep

“Dengan demikian ikan molly sangat baik sebagai sumber protein, asam amino dan asam lemak esensial. Informasi ilmiah ini belum sampai ke petani tambak dan upaya pemanfaatannya sebagai penyedia sumber protein hewani belum dilakukan,” ujar Andi Tamsil.

Penyuluhan dan pelatihan yang telah dilakukan diharapkan menjadi solusi bagi petambak atau paling tidak sudah dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mitra tentang manfaat ikan molly, meningkatnya keterampilan mengolah ikan molly menjadi tepung ikan (bahan baku pakan), dan selanjutnya dibuat menjadi pakan ikan.

Kegiatan yang ditujukan kepada petani tambak dan kelompok pembuat pakan ini dilaksanakan di Balai Pertemuan Kantor Kelurahan Bawasalo, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep, Rabu (7/12/2022). Dipimpin oleh Dr Ir H Andi Tamsil MS IPM dan Dr Ir Hasnidar MS IPM, dihadiri oleh Camat Segeri, Lurah Bawasalo, Penyuluh Perikanan, alumni dan mahasiswa FPIK UMI.

Camat Segeri yang diampingi Lurah Bawasalo sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena akan membantu menekan biaya produksi budidaya ikan dan udang, serta dapat mengontrol hama yang selama ini mengganggu proses budidaya.

“Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, karena masyarakat terus menerus membutuhkan pendampingan dan informasi teknologi terbaru.  Masyarakat yang hadir juga sangat bersemangat dan minta terus didampingi,” ujar Camat Segeri.