Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar UMI

Kampus UMI
Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Dr H Basri Modding SE MSi.

MAKASSAR, LINES.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) merupakan perguruan tinggi tertua, terkemuka di Indonesia Timur dengan akreditasi institusi ‘A’. Sebagai perguruan tinggi yang maju, UMI diwajibkan untuk terus menciptakan inovasi dan kreatifitas dalam berbagai sektor agar tidak ditenggelamkan oleh zaman.

Perguruan tinggi yang berdiri pada 23 Juni 1954 ini telah menunjukan bukti bahwa di berbagai situasi dan konidisi, tetap mampu bertahan dan beradaptasi serta menyesuaikan dengan segala kemajuan yang ada. Salah satunya pada konsepsi besar dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim soal Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar.

Konsep Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar ala Nadiem sendiri memiiliki empat poin penting. Diantaranya sistem akreditasi perguruan tinggi, hak belajar tiga semester di luar prodi, pembukaan prodi baru, kemudahan menjadi PTN-BH. Dari keempat poin itu kemudian dijabarkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggii Kemedikbud Prof Ir Nizam MSc DIC PhD menjadi 8 poin seperti magang, proyek di desa, mengajar di sekolah, pertukaran pelajar, penelitian riset, kegiatan wirausaha, studi proyek independen, dan proyek kemanusiaan.

Merdeka Belajar dan UMI

Lalu, apakah UMI telah alias akan mampu memenuhi poin-poin di atas?. Rektor UMI Prof Dr H Basri Moding SE MSi mengatakan, dalam rangka menghadapai konsep Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar, UMI telah membentuk tim penyusun kurikulum Kampus Merdeka Belajar.




Baca juga: Profil di Balik Suksesnya Aktivitas Akademik FTI UMI di Masa Pandemi

Baca juga: Begini Alur Pendaftaran Maba UMI Tahun Akademik 2020/2021

 

“Untuk mengantisipasi dinamika Pendidikan Tinggi yang berkembang saat ini, UMI telah membentuk Tim Penyusun Kurikulum untuk penerapan “Kampus Merdeka” dan ‘Merdeka Belajar’. Diharapkan tahun ajaran baru 2020/2021 kebijakan ini segera dilaksanakan,” ungkap Prof Basri Modding.

Namun demikian, kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI ini, perguruan tinggi yang dipimpinnya ini pada dasarnya telah menjalankan konsep Kampus Merdeka dan Medeka Belajar secara substansi. Berdasar pada delapan poin yang dirangkum oleh Direktur jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI di atas secara substansi yang berbasis program aksidentil, jangka pendek, dan jangka panjang. Sejumlah program tersebut, disebutkan Prof Basri Modding, misalnya terkait dengan magang mahasiswa di Industri, lembaga swasta dan negeri, serta lain sebagainya.

“Sebab selama ini mahasiswa UMI telah melaksanakan berbagai program magang di sejumlah institusi dan industri terkait. Sebagai implementasi dari kerjasama yang telah disepakati. Salah satu contoh, UMI bersama 12 Perguruan Tinggi di Makassar telah bekerjasama dengan BUMN, diantaranya PT. Semen Tonasa dan PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV dalam program Magang Mahasiswa Bersertifikat.

“Alhamdulillah mahasiswa UMI meraih penghargaan sebagai peserta magang terbaik. Program ini bertujuan sebagai sarana pengayaan wawasan dan keterampilan untuk mempersiapkan mahasiswa masuk ke dunia kerja. Terutama dalam menghadapi persaingan global,” sambungnya.




Baca juga: Tim Relawan FTI UMI, Salurkan Donasi Korban Banjir Luwu Utara di Empat Titik

Baca juga: AMDA dan AMSA UMI Salurkan Bantuan dan Buka Posko Kesehatan di Luwu Utara

Merdeka belajar bidang…