Teknologi Hidroponik, Wujudkan Ketahanan Pangan Keluarga

Ketahanan Pangan
Foto: Ilustrasi aplikasi hidroponik (sumber: merdeka.com)
Manfaat tanam pangan keluarga

Anggota Dewan editor IAARD Press ini membeberkan manfaatnya. Antara lain meningkatkan tendensi kebutuhan keluarga dalam mengelola sumber daya yang ada. Kedua, menghemat sumber dana untuk konsumsi setiap hari mulai dari sayur, lauk pauk, beras dan sejenisnya.

“Untuk menggapai itu kita harus menerapkan nilai budaya, yakni bertanam menjadi biasa dan bisa menerapkan pendidikan lingkungan hidup. Bagaimana pengetahuannya, kesadarannya, sikap, ketrampilan dan partisipasi. Harapannya adalah berkelanjutan,” jelasnya.

Untuk mewujudkan tanam pangan keluarga, komponen yang dibutuhkan dimulai dari bibit, penyediaan benih, dan teknik budidaya. Adanya contoh budidaya sayuran dipadukan dengan ikan itu merupakan inovasi teknologi yang bisa diterapkan di rumah tangga. Prof Rubiyo menyampaikan, teknologinya sudah kita siapkan, tinggal bagaimana organisasi mengaplikasikannya. Apakah di masjid atau pesantren dengan eco pesantren, di kelompok warga atau masyarakat itu semua sudah ada modelnya.

Baca juga: Turun ke Jalan, LDII Bagikan Paket Sembako bagi Warga Terdampak COVID-19

Baca juga: Wujudkan Solidaritas Sosial, LDII Kota Padang Bagikan Masker Gratis

 

Ia mencontohkan sayuran paria yang ditanam di ember plastik, ternyata manfaat yang terkandung paria sangat baik. Antara lain, anti penyakit virus hiv, flu, mengurangi kesuburan pria, dan di Filipina dipatenkan menjadi obat anti diabetes. Selanjutnya, urban farming ini bisa kita lakukan untuk melengkapi tanaman sayuran seperti kunyit, jahe, cabe jawa, kencur, temulawak. Manfaat yang terkandung di dalam kunyit antara lain mencegah penuaan dini, menurunkan kolestereol dan sebagai obat diare.

Dari materi yang ia paparkan, Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) ini memberikan kesimpulan. Yakni organisasi dalam hal ini LDII dapat membuat percontohan klaster urban farming sebagai solusi partisipasi masyarakat kota untuk menyediakan pangan. Kedua, membangun model kelembagaan petani yang modern dan menjadi rujukan tunggal. Ketiga, mendorong terus menerus dan konsisten diverisifikasi pangan.