Endah mengatakan, tidak bisa dipungkiri, selama ini food style sebagian besar masyarkat kita masih sekadar terpenuhinya rasa “kenyang” tanpa memandang makanan tersebut aman, bernutrisi atau tidak. Namun food style beberapa masyarakat sudah mulai bergeser ke pangan bernutrisi, bahkan pangan fungsional sudah menjadi tren di beberapa kalangan masyarakat.
“Mudah-mudahan, dengan kejadian ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat kita pentingnya makanan bernutrisi.”
Menurut Endah, status nutrisi sangat berperan terhadap daya tahan tubuh. Kurang gizi menyebabkan pertahanan tubuh lemah, mudah infeksi. “Jika indeks massa tubuh tinggi [kelebihan berat badan atau kegemukan] menyebabkan peradangan berlebihan, rentan infeksi seperti influenza, dan lebih berisiko komplikasi sehingga penyakit yang ditimbulkan lebih parah,” terangnya.
Hal yang mempengaruhi mutu pangan
Azwar Hadi Nasution meragukan kualitas pangan di Indonesia. Ada beberapa hal yang memengaruhi mutu pangan di Indonesia.
Pertama, penyeragaman pangan. Yakni beras. Padahal tidak semua tanah di Indonesia dapat dijadikan sawah. Ironinya dalam menangani pangan ini, banyak pohon sagu dan tanaman lainnya yang selama ini sebagai pangan lokal, dihabisi.
Baca juga: Siap-siap! Wilayah Zona Musim Akan Alami Kemarau Lebih Kering
Baca juga: Kurangi Angka Pengangguran, Pemerintah Percepat Program Padat Karya di 900 Kecamatan
Kedua, jarak pangan dari petani ke konsumen begitu panjang. Dari petani-pengepul kecil desa-pengepul besar desa-pengepul kota-distributor kota. Lalu dari distributor kota-distributor desa-warung-konsumen. “Suhu, kelembaban, dan kerentanan busuk, terkontaminasi terjadi di sini,” katanya.
Ketiga, saat ini tidak lebih dari 10 persen produsen penghasil beras organik. “Belum lagi pangan dari laut dan sungai yang tercemar,” ujarnya.
Keempat, sistem pergudangan pangan Indonesia belum mampu menjamin mutu pangan. “BULOG saja menghasilkan beras busuk, berkutu di tahun 2019. Sekelas gudang BULOG terdapat 20.000 ton mengalami penurunan mutu.”
Kelima. Kandungan polutan. “Cara membacanya sederhana saja, bila hanya 10 persen dari total produksi organik maka 90 persen produksi pangan kita berpotensi mengandung polutan,” pungkasnya.












