“Kebijakan-kebijakan ini menghancurkan ribuan pertanian kecil, yang kemudian membahayakan ketahanan pangan bagi seluruh populasi. Tidak adanya kebijakan lokal untuk menjamin ketersediaan pangan membuat sengkarut penanganan pangan bila terjadi geger nasional. Rantai pangan yang panjang, 7-8 pemangku kepentingan untuk pangan ini, semua harus sentralisasi,” terangnya.
Endah Puspitojati, peneliti pangan dari DIY Yogyakarta, menekankan perlu menanamkan optimistis dan perlindungan terhadap petani di Indonesia.
“Pemerintah harus terus menggenjot tingkat produktivitas komoditas pangan. Petani dan penyuluh pertanian sebagai garda depan pertanian harus dipastikan dan dijamin kesehatannya sehingga selalu siap terjun ke lahan,” katanya.
Baca juga: Hadapi Badai Ekonomi Akibat Pandemi, Menkeu Luncurkan Sejumlah Stimulus
Baca juga: Baik untuk Perangsang Pertumbuhan Tanaman, Begini Cara Membuat Pupuk Organik Cair
Dari sisi pencegahan, bagaimana meningkatkan asupan gizi para petani, tetap memakai masker saat di lahan, dan selalu membudidayakan minum jamu selama wabah COVID-19 ini.
“Saya rasa pemerintah juga memberikan perhatian yang baik bagi para petani dan penyuluh, serta selalu diberikan suntikan IPTEK bagaimana meningkatkan produktivitas,” katanya.
Makanan berkualitas
Endah tidak begitu yakin Indonesia akan mengalami krisis pangan selama wabah corona. Sebab, aktivitas pertanian terus berjalan, didorong besarnya permintaan pasar dan adanya jaminan pemerintah.
Pentingnya makanan berkualitas harus ada selama wabah ini. “Kualitas makanan yang rendah juga menjadi faktor kurangnya kekebalan tubuh pada seseorang, sehingga rentan terkena COVID-19,” katanya.
Endah mengatakan…












