FGD-2 LDII DIY, Angkat Pendidikan Karakter Songsong Generasi Emas 2045

LDII
FGD-2 DPW LDII DIY digelar secara daring melalui studio utama Aula DPD LDII Kabupaten Sleman, Sabtu (31/7/2021)

Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi negara kuat dan maju bila momen-momen tersebut dipersiapkan lebih awal. Akan tetapi jika tidak dipersiapkan dengan baik, bonus demografi tersebut akan menjadi beban suatu bangsa. ”Dari tantangan dan rintangan yang ada, pendidikan karakter sangat berperan penting untuk generasi saat ini,” tukasnya.

Tanam Nilai-nilai Luhur Budaya Jawa

Selain profesional religius, GKR Bendara mengajak setiap keluarga menanamkan nilai-nilai luhur budaya jawa untuk membangun generasi muda yang berkarakter dan berbudaya. Berawal dari kewajiban orang tua pada 1000 hari pertama tumbuh kembang seorang anak.

“Ini penting, seperti pemenuhan gizi saat hamil, setelah bayi lahir dimulai dari gizi ibu saat menyusui, kesehatan mental si ibu, imunisasi harus lengkap, dan stimulasi tumbuh kembang anak jangan sampai masuk kategori stunting. Gerakan 1000 hari pertama ini di Indonesia telah lama digerakkan sejak 4 tahun terakhir sebagai persiapan nanti di tahun 2045,” jelasnya.

Dalam mengasuh anak, GKR Bendara berharap tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sejak dini anak diberikan pola asuh cara mengelola emosi dengan benar. “Seperti saat anak laki-laki tidak boleh menangis. Hal ini akan menjadikan seorang anak tidak bisa meluapkan emosinya. Akibatnya, ketika dewasa anak tersebut akan meluapkan emosinya ke jalur yang tidak benar,” ujarnya.

Baca juga: Ketua DMI Kukuhkan dan Lantik Pengurus DKM Binaan LDII Mimika

Oleh karena itu, GKR Bendara berpesan, “Jangan men-gender-kan warna, mainan, hobi, ataupun jurusan akademik kepada anak, karena kalau orang tua mengkotak-kotakkan gender tersebut ke dalam suatu wadah, maka di tahun 2045 Indonesia tidak mendapatkan SDM yang mumpuni, yang bisa berkembang, beradaptasi dari semua lini dalam menghadapi tantangan di masa depan,” pesannya.

Sementara itu, Prof Ki Supriyoko menjelaskan bagaimana sejarah Ki Hadjar Dewantara dalam membangun taman siswa. “Ki Hadjar Dewantara tidak hanya mengedepankan religius saja, tetapi nasionalismesme juga,” ungkapnya.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan karakter harus ada di tiga sentral yaitu keluarga, sekolah atau perguruan, dan masyarakat. “Ketiga ranah tersebut harus bersatu,” tandas Prof Ki Supriyoko.