MUI Pusat Gelar Dialog dan Sosialisasi Buku

MUI
Komisi Kerukunan Antar Ummat MUI Pusat menghelat Dialog dan Sosialisasi Buku Kerukunan antar Umat Beragama Perspektif Islam secara blended, bertajuk "Merajut Kerukunan antar Umat Beragama," di Swiss-Belinn hotel, Jalan Boulevard Raya No. 55 Makassar, Rabu (18/11/2020).

“Buku bertajuk Kerukunan antar Umat Beragama Perspektif Islam, perlu dijadikan pedoman MUI, baik MUI Pusat hingga kecamatan untuk mewujudkan kerukunan sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Perlu juga ada buku kerukunan antar umat beragama perspektif agama lain untuk membangun kerukunan dan menjadi kerangka cinta tanah air,” tandasnya.

Harmoni untuk Rahmatan Lilalamin

Dr Nadjamuddin Ramly MSi, yang juga Wakil Sekjen MUI Pusat sekaligus newakili Ketua Umum MUI Pusat dalam sambutannya mengatakan tanpa gesekan adalah tujuan kita sebagai khalifah di dunia ini. “Mari menciptakan harmoni di dunia ini untuk melindungi manusia, hewan, dan tumbuhan sebagai rahmat untuk seluruh alam,” ujarnya.

“Ia menambahkan, bagaimana membangun dan merajut keharmonisan dalam bingkai NKRI, sehingga timbul saling pengertian, tasamuh, dan toleransi. Kalau di daerah itu dominan umat Islam, maka umat beragama lainnya terlindungi,” pungkasnya.

Dalam keynote speech-nya bertajuk “Merajut Keharmonisan Umat Beragama dalam Bingkai NKRI”, Irjen Pol Merdisyam MSi mengawali materinya dengan menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada para alim ulama, zu’ama dan cendikiawan muslim, yang senantiasa memberikan dakwah yang menyejukkan sehingga situasi kamtibmas semakin aman dan kondusif.

Baca juga: Tiga Dosen FBS UNM Gelar PKM Pelatihan Pembuatan Perpustakaan Online Berbasis EndNote

Baca juga: Menteri Pertanian Hadir sebagai Nara Sumber Kuliah Umum di UNM

 

MUI Pemersatu Bangsa
MUI
Wakil Ketua Infokom MUI Sulawesi Selatan Prof Dr Sukardi Weda (kiri)

Irjen Pol Merdisyam menambahkan bahwa kita memiliki keragaman suku, adat, dan agama harus dikelola dengan baik, karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan. “Semoga MUI dapat menjadi pemersatu bangsa, saling membantu, meskipun berbeda agama atau keyakinan untuk merajut harmoni. MUI perlu mengambil peran untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat,” tegasnya.

Irjen Pol Merdisyam dalam pemaparannya banyak mengutip filosofi dan kearifan lokal, macca, warani, dan magetteng. Ia juga memaparkan filosofi Pinisi, yaitu gotong royong, percaya pada proses, etos kerja, keindahan, sederhana, kokoh hadapi tantangan, sampai pada tujuan. Termasuk juga Pasaribattang, Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Ma’bulo Sibatang, dan Siri’ na Pacce, juga secara gamblang diuraikan oleh Kapolda Sulawesi Selatan.

Mewakili MUI Sulawesi Selatan, Prof Dr Muh Ghalib M A dalam paparannya mengatakan bahwa kerukunan adalah keadaan hubungan antar umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, dan menghargai dalam pengamalan ajaran agama dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.

Sukardi Weda, mewakili Universitas Negeri Makassar, yang juga Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Sulawesi Selatan menyambut dengan baik kegiatan ini, karena dengan kegitan seperti ini, peserta dapat berbagi pengetahuan tentang praktik kerukunan beragama yang baik, sehingga tercipta harmoni dan keteraturan di tengah masyarakat.