Hadiri Diskusi Bersama Wakil Ketua MPR RI, Pj Ketum LDII Paparkan Kemandirian Ekonomi Umat

LDII
Penjabat Ketua Umum DPP LDII Ir H Chriswantos Santoso MSc.

 Selain kemandirian ekonomi, Chriswanto Santoso menilai Indonesia turut dirusak oleh politik transaksional. Ini tidak terlepas dari lemahnya kemandirian ekonomi umat. Suara umat mudah dibeli dengan uang, sehingga yang terjadi adalah keterpilihan bukan keterwakilan. Agar dunia politik Indonesia maju maka pemilu harus dilakukan secara rasional sehingga kita punya keterwakilan.

“Kita selama lima tahun sekali mengalami gebyar pemilu. Yang menang biasanya penjudinya. Di level agak tinggi pemilik modal yang bermain. Kita perjuangkan untuk bersama memperbaiki sistem sehingga terbangun kemandirian umat islam. Pak Zul dan kawan kawan di politik kalau perlu revisi peraturan terkait agar menjadi keterwakilan bukan keterpilihan,” urainya.

Chriswanto Santoso selanjutnya mewanti-wanti soal ketahanan pangan. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) dari PBB, dunia akan segera mengalami krisis pangan. Kini negara seperti Thailand dan Vietnam mulai membatasi impor beras. Sementara ketahanan pangan Indonesia sebagian berasal dari impor beras.

“Kita perlu mengembangkan tenaga muda kita misalkan urban farming. Hal yang tidak kalah penting membangun kemandirian muslim di segala bidang dan perlu kerjasama agar punya bargaining yang cukup untuk melawan kekufuran,” tutupnya.




Baca juga: Sampaikan Hasil Rapimnas, LDII Balikpapan Audiensi dengan MUI dan Kesbangpol

Baca juga: Hadiri Koordinasi Kesiapan Pilkada 2020, LDII Balikpapan Netral Aktif

 

Diskusi berkelanjutan

Zulkifli Hasan mengatakan “Kita menghadapi islamophobia di tanah air”. Menurutnya, Islam terpecah belah, seharusnya kita tidak bercerai berai hanya karena berbeda pendapat.

“Sependapat untuk berbeda pendapat, artinya menghormati perbedaan pendapat yang lain. Kita harus melakukan diskusi seperti ini agar bisa bersinergi dan punya pandangan luas untuk memilih sikap demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Diskusi dan pertemuan dalam suasana kekeluargaan ini diusulkan akan diselenggarakan secara berkala minimal tiga bulan sekali. Selain mempererat tali silaturahim di antara pimpinan ormas Islam dan tokoh agama dan masyarakat dengan wakil rakyat, juga banyak ide dan gagasan yang bisa diusung untuk bahan bagi pembuat kebijakan publik.

Zulkifli Hasan berkomitmen akan membawa dan menyampaikan, berbagai masukan dan saran dalam diskusi ini dalam rencana pertemuannya dengan Presiden Jokowi mendatang.