Pahami Flora Pegunungan, Mahasiswa Dendrologi UGM-ITB-UNS Kuliah Online Bersama

Dendrologi
Dr Ichsan Suwandi SHut MP, staff pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (kanan) sedang mengisi dengan didampingi host acara Atus Syahbudin SHut MAgr PhD (kiri)

SLEMAN, LINES.id – Hutan pegunungan berperan penting dalam menjaga flora, fauna dan lanskap khas pegunungan, serta mengatur sumber mata air. Demi kelestariannya, para pihak seperti masyarakat, pejabat setempat, sivitas akademika, dan pegawai taman nasional perlu berkolaborasi serta berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Untuk itulah, Fakultas Kehutanan UGM berusaha konsisten menyelenggarakan Kuliah Tamu Dendrologi dengan narasumber, dosen, atau pakar selain dari Fakultas Kehutanan UGM.

Kali ini Kuliah Tamu Dendrologi Seri 2 menghadirkan Dr Ichsan Suwandi SHut MP, salah satu dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB untuk memberikan penjelasan mengenai flora di hutan pegunungan.

Sebelumnya, pada Kuliah Tamu Dendrologi Seri 1, Direktur Hortus Botanicus Leiden, Prof Paul J A Kessler menguraikan arti penting dari kebun raya, proses koleksi dan pembuatan herbarium, pada Kamis (12/3/2020) lalu.

Kuliah Tamu Dendrologi Seri 2

Kuliah Tamu Dendrologi Seri 2 diselenggarakan secara online di tengah merebaknya pandemi COVID-19 dengan memanfaatkan fasilitas Webex UGM-spark, Kamis (16/4/2020).

Diikuti lebih dari 185 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Terutama mahasiswa dari Prodi Kehutanan Fakultas Kehutanan UGM, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dan Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian UNS.

Di samping mahasiswa, beberapa dosen, pejabat pemda, serta pegawai perusahaan kehutanan dan taman nasional nampak mengikuti pula dengan seksama.

Kuliah Tamu Dendrologi Seri 2 dipandu oleh Atus Syahbudin SHut MAgr PhD, dosen Mata Kuliah Dendrologi Fakultas Kehutanan UGM. Turut mendampingi via Webex Dr Ir Dwi Tyaningsih Adriyanti SHut MP, Dr Winastuti Dwi Atmanto MP, dan Fiqri Ardiansyah SHut MSc.

Baca juga: PSBB Makassar Mulai 24 April 2020, Pemkot Diminta Pertimbangkan Penutupan Masjid

Baca juga: Kemensos Salurkan Bansos untuk DMI, LDII dan Warga Terdampak Covid-19

 

Dendrologi
Dr Ichsan Suwandi SHut MP, staff pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (kanan atas) sedang mengisi dengan didampingi host acara Atus Syahbudin SHut MAgr PhD (kiri bawah)

Dalam paparannya, Ichsan mendeskripsikan ciri-ciri morfologi dari saninten (Castanopsis argentea), ki hiur (C. javanica), pasang (Lithocarpus sundaicus), manglid (Magnolia sumatrana var glauca). Jamuju (Podocarpus imbricatus), huru (Litsea javanica), ki lemo (L. cubeba), medang (Persea rimosa), dan cantigi (Vaccinium varingifolium).

Di samping itu, kemanfaatan pohon-pohon tersebut diuraikan, antara lain: batang Litsea cubeba yang biasa dipakai sebagai penangkal ular berbisa.

“Pohon Litsea cubeba perlu dilestarikan. Jangan ditebang karena diyakini oleh masyarakat setempat untuk menangkal kehadiran ular,” jelas Ichsan yang meneliti L. cubeba semasa S3.

Apabila mampu mencapai puncak gunung biasanya mulai dijumpai cantigi. Bagian-bagian tumbuhan ini sangat berguna. Ciri khas tumbuhan ini mempunyai daun muda yang berwarna kemerah-merahan.

“Buah cantigi yang matang dapat dimakan. Terasa segar. Daunnya bisa untuk menyegarkan stamina tubuh saat mendaki. Apabila membawa peralatan memasak, daun cantigi sebaiknya dimasak dahulu. Bila tidak, bisa juga langsung dikunyah-kunyah,” tambah dosen yang ahli menggambar ilustrasi botani.

Mahasiswa lebih aktif bertanya

Perkuliahan online ramai-ramai terasa seru. Materi presentasi via powerpoint tersaji jelas di layar laptop atau HP masing-masing mahasiswa. Mahasiswa terlihat lebih berani bertanya melalui chat pada layar Webex.

“Mahasiswa nampak bersemangat dan aktif bertanya. Bahkan beberapa pertanyaan belum sempat dijawab karena waktu kuliah online terbatas 100 menit,” ungkap Atus yang memiliki tridarma di hutan pegunungan, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Hal ini diakui pula oleh Ridla Arifriana yang mengajar pada Prodi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM. “Saya appreciate, banyak sekali mahasiswa yang antusias bertanya,” jelas Ridla.

Baca juga: Dosen Dendrologi UGM Dorong Pelestarian Kehati Gunung Merbabu

Baca juga: Reviewer LPDP Bekali Ratusan Mahasiswa Raih Beasiswa Luar Negeri

 

Kendala kuliah online semasa COVID-19

Penyelenggaraan kuliah jarak jauh telah sesuai dengan himbauan Dirjen DIKTI Kemendikbud selama pandemi COVID-19. Namun mahasiswa menemui beberapa kendala seperti kualitas sinyal, terbatasnya uang untuk membeli pulsa internet, dan penguasaan etika dalam berkomunikasi online.

Salah satu mahasiswa Dendrologi UGM asal Jawa Tengah, Ichsan Nur kholilah sebenarnya sangat menikmati Kuliah Tamu Dendrologi ini terutama animasi flora yang sangat menarik, namun suara pengganggu masih disayangkannya.

“Karena yang online lebih dari 182 peserta, terkadang ada beberapa yang lupa unmute. Jadi sedikit mengganggu. Sinyal juga tidak bisa dipungkiri. Saya berharap Pak Atus lebih sering mendatangkan pembicara yang luar biasa biar wawasan dan rasa cinta terhadap dunia kehutanan semakin bersemi. Saya menyukai tips Pak Ichsan bahwa jika mau sayang sama pohon maka temui dan peluk dia supaya feel-nya semakin dapat. Rasanya langsung pengen mengunjungi pohon,” ungkapnya.

Fani Damayanti yang mengikuti dari rumahnya di magelang pun sepakat. “Materi yang disampaikan menambah wawasan mengenai pohon di daerah Jawa barat. Tetapi masih ada noise dari yang mengikuti kuliah tamu namun tidak mematikan speaker,” ucapnya.

Terlepas dari kendala tersebut, sebagian peserta merasakan Kuliah Tamu Dendrologi sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru. Bahkan Kepala Bidang Litbang Bappelitbang Ngawi, Sargian Januardy SH MM ingin mengikuti lagi apabila ada kuliah tamu serupa secara online.

“Bagus, menarik, dan dapat ilmu baru. Kalau ada lagi saya mau ikut lagi,” harapnya.

“Sangat keren dan materi yang disampaikan mudah dipahami,” kata Sidiq, alumni Sekolah Vokasi UGM. Adapun Japet Moryo D Hutabarat mengakui sangat gembira, karena berjumpa relasi baru.

“Terima kasih Pak Atus sudah mempermudah mendapatkan relasi baru lagi dan beberapa informasi baru,” aku Japet.

Selama Pandemi COVID-19 kuliah online merupakan salah satu solusi untuk tetap dapat mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Kendala yang masih ditemukan selama pelaksanaan kuliah online perlu disikapi dengan bijak dan dicarikan solusi terbaiknya agar sivitas akademika tetap menjaga jarak dan sehat selalu.