Selain terampil membuat ember tumpuk sendiri, Sarsam menempatkan 1 ember di belakang rumahnya, di tempat terbuka yang berdampingan dengan instalasi biogas bantuan Dinas Lingkungan Hidup Ngawi. Nampak lalat tentara hitam (H. illucens) beterbangan di sekitar ember tumpuk.
“Saya bangga dan senang menerima bantuan ember tumpuk ini sehingga banyak belajar bagaimana cara membuat ember tumpuk dan POC. Saya juga baru tahu kalau lalat tentara hitam itu bermanfaat buat masyarakat,” ungkap Sarsam saat menunjukkan ember tumpuk di halaman belakang rumahnya.

Program Kesejahteraan Masyarakat
Kepala Dusun Duren, Triono mengucapkan terima kasih atas program KKN-PPM UGM Juni-Agustus lalu dan mengharapkan adanya program lain untuk melancarkan produksi pertanian di Desa Jaten.
“Masyarakat Jaten itu majemuk dan 90%-nya adalah petani. Untuk itu, saya ingin mendapatkan program lagi agar produksi pertanian lancar sehingga bisa mengangkat kesejahteraan petani. Selain petani, masyarakat di sini juga beternak, perajin bambu, dan menghasilkan madu hutan,” ungkap Triono.
Baca juga: Mahasiswa KKN-PPM UGM Terbitkan Buku Saku “Daily English Conversation” untuk Pemandu Desa Wisata
Baca juga: Kisah Perjuangan Riyan Dosen UGM, Pernah Berprofesi sebagai Drivel Ojol
Sementara itu, Atus dalam sambutannya mengungkapkan keinginannya agar Dusun Duren mampu terus berkembang menjadi sentra percontohan POC, kerajinan bambu, madu hutan, bunga telang, dan hutan rakyat.
“Upaya ini akan mampu meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan menurunkan ketergantungannya terhadap hutan sebagai sumber pangan dan kayu bakar. Hutan pegunungan pun secara alami dapat memulihkan ekosistemnya sebagai sumber air, udara sejuk, lanskap, dan pelestarian flora dan fauna,” ungkapnya.
Suatu hari nanti, kata Atus, keberadaan POC, kerajinan bambu, madu hutan, bunga telang, dan hutan rakyat yang dirintis di Desa Jaten ini dapat menjadi alternatif penghasilan dari desa wisata. “Senang rasanya bila masyarakat turut menjaga dan melindungi hutan karena berkait erat dengan sumber penghasilan mereka,” harap Atus yang sudah menginisiasi berbagai solusi kegiatan ekonomi bagi masyarakat di sekitar hutan Gunung Lawu sejak 2014.












