Remaja LDII Berprestasi Sekaligus Melestarikan Budaya Jawa

  • Bagikan
LDII
Isna Jamilatun Solekhah siswi kelas XII MIPA 2 SMA Negeri 2 Bantul yang juga remaja LDII Kebonagung berhasil meraih prestasi di tengah pandemi.

BANTUL, LINES.id – Remaja Pimpinan Anak Cabang (PAC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kebonagung, Imogiri, Bantul, Isna Jamilatun Solekhah, siswi kelas XII MIPA 2 SMA Negeri 2 Bantul ini berhasil meraih prestasi sekaligus melestarikan budaya jawa di tengah pandemi.

Beberapa waktu lalu Isna berhasil menyabet Juara I Lomba Baca Geguritan dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra 2020 SMA/SMK/MA se-Kabupaten Bantul yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Kemudian lomba yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY berhasil meraih juara II saat mewakili kabupaten.

Lomba yang biasanya dilaksanakan tampil di panggung, kini karena pandemi dilaksanakan secara online. Peserta hanya diminta mengirimkan video.

“Saat membuat video, kendalanya adalah mengulang-ulang untuk take (pengambilan video) karena grogi dan kurang fokus saat harus menatap kamera. Selain itu, take harus dilakukan di sekolah dan diarahkan juga oleh Bu guru jadi lebih grogi lagi ketika dikoreksi secara langsung,” jelas Isna.

Namun dengan perjuangan itu, lanjut Isna, ia dapat menyalurkan bakatnya dan ikut membanggakan sekolah dan orang tua.

Baca juga: Rawan Bencana, LDII Jabar Gelar Webinar Sosialisasi Siap Siaga Bencana

Baca juga: Sat Binmas Polres Tanjab Barat Kunjungi Sekretariat LDII Jambi

 

LDII
Isna Jamilatun Solekhah (paling kanan) bersama pemenang lomba lainnya.
Geguritan

Geguritan adalah puisi. Geguritan juga merupakan budaya yang perlu dilestarikan. Perbedaan dengan puisi pada umumnya, geguritan menggunakan bahasa jawa dan unik, kosakata bahasa Jawa mempunyai makna yang lebih dalam.

“Dalam membaca geguritan dibutuhkan 4W yaitu Wicara (ketepatan membaca kata), Wirama (intonasi), Wirasa (penghayatan) dan Wiraga (peragaan). Membaca geguritan lebih sulit karena banyak kata yang perlu diperhatikan dalam pengucapannya, antara lain membedakan ê, è, é, tha, ta, da,dan dha,” papar Isna.

Siswi kelahiran Bantul, 30 September 2002 ini berpesan, “Jangan berpikiran bahwa bahasa Jawa itu susah, kenali dulu, coba pahami. Setelah itu kalian akan memahami betapa indah dan uniknya bahasa Jawa, mulai dari aksara Jawa, geguritan, sesorah, dan lain-lain. Kalian perlahan akan dapat menikmatinya. Budaya Jawa tidak akan kalah menarik dengan budaya luar seperti K-Pop. Karena setelah kalian sudah mendapatkan makna dan keunikannya maka kalian pun akan dapat menikmati dengan sendirinya,” pesannya.

  • Bagikan

Comment