oleh

Teknologi Ember Tumpuk, Solusi Pemanfaatan Limbah Organik Inisasi UGM

NGAWI, LINES.id – Teknologi ember tumpuk adalah teknologi menyatukan dua buah ember dengan bantuan larva lalat tentara hitam atau larva Hi (Hermetia illucens). Teknolog ini diinisiasi oleh Pakar Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Nasih Widya Yuwono SP MP sejak tahun 2018.

Nasih bersama Atus Syahbudin SHut MAgr PhD (Fak. Kehutanan), Ridla Arifriana SHut MSc (Sekolah Vokasi), dan Zulfa Parulian Alzuhdy (Fak. Pertanian) tergabung dalam tim Teknologi Tepat Guna (TTG) UGM.

Dalam rangka meningkatkan produksi hasil pertanian sekaligus mendukung desa wisata di lereng Gunung Lawu, tim TTG UGM memberikan pelatihan tentang teknologi ember tumpuk di Desa Jaten, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, Minggu (25/10/2020).

Sebagian besar masyarakat desa di lereng utara Gunung Lawu bermata pencaharian sebagai petani, sehingga sampah organik rumah tangga seperti buah dan sayur tersedia melimpah. Tidak hanya itu, hutan rakyat pun memenuhi desa dengan jenis pohon jati, mahoni, cengkih, pete, rambutan, durian, jambu air, bambu, dan lain-lain.




Baca juga: Petani di Ngawi Raup Keuntungan dari Tanaman Bunga Telang

Baca juga: Tanpa Terjun Lapangan, Pelaksanaan KKN Daring UGM Mampu Selesaikan 94 Program KKN di Ngawi

 

Teknologi Ember Tumpuk

Dihadapan 30 warga masyarakat yang sebagian besar merupakan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Citrun Jaya, Nasih menjelaskan teknologi ember tumpuk. “Ember bawah merupakan penyangga ember atas dan mempunyai kran di samping bawah, sekitar 5 cm dari dasar. Ember bagian bawah akan mewadahi lindi yang akan menjadi Pupuk Organik Cair (POC),” jelasnya.

Teknologi Ember Tumpuk
Sampah yang dimasukkan ke dalam ember bagian atas.

Adapun ember atas, lanjut Nasih, untuk memasukan sampah organik. “Pada bagian bawahnya diberi lubang sebanyak 150-an lubang berdiameter 5 mm. Di samping atas ember, tetapi masih di bawah tutup juga diberi 4 buah lubang guna perputaran udara dan lubang masuk larva muda yang menetas,” jelas Nasih sambil mempraktikkan membuat lubang-lubang kecil dengan boor di tangannya.

Peserta terlihat antusias, terbukti mereka banyak bertanya mengenai tempat meletakan ember tumpuk, jenis sampah yang boleh dimasukkan ke dalam ember, lama waktu panen POC, cara agar POC tidak berbau, dll.

Pada kesempatan itu, sekitar 30 ember tumpuk diserahterimakan oleh Atus selaku Ketua Tim TTG UGM kepada Kepala Dusun Duren, Triono, untuk ditempatkan di setiap rumah anggota KWT. Di beberapa rumah lainnya, teknologi ember tumpuk sudah mulai diterapkan sebagaimana yang dialami oleh Sarsam Wahyudi.

Selain terampil membuat…

Komentar

News Feed