oleh

Pertemuan Virtual Bersama Dubes AS, LDII Tawarkan Pancasila Sebagai Solusi Harmoni Dunia

JAKARTA, LINES.id – Duta Besar United States for International Religious Freedom, Sam Brownback, mengadakan acara Meeting on Education, Resilience, Respect, and Inclusion (MERRI) Virtual Conference Agenda, pada 15-17 September 2020 langsung dari Washington, DC.

Tujuan dari pertemuan internasional tersebut untuk memajukan pendekatan berbasis pendidikan, untuk dipromosikan dalam rangka menghormati agama, etnis dan bentuk keragaman lainnya. Pertemuan itu juga untuk melawan gagasan dan narasi yang mencoba untuk membenarkan diskriminasi, dan kekerasan berbasis kebencian — termasuk terorisme.

Ketegangan dalam negara atau antarnegara di berbagai belahan dunia salah satunya dipicu atas nama agama atau pemaksaan kehendak. Hal ini pula yang melatarbelakangi pertemuan tersebut. Dalam pertemuan virtual itu, hadir tokoh-tokoh lintas agama dari 40 negara.




Baca juga: Kemenag Provinsi Maluku Bersama LDII Wujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin

Baca juga: Remaja LDII Tengklik Latih Kemandirian dengan Bercocok Tanam

 

Acara pembukaan dihadiri mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Dalam sambutannya, Blair mengatakan kebebasan beragama mengalami perubahan besar selama pandemi Covid-19. “Selama wabah virus corona kebebasan beragama terganggu, bahkan kaum minoritas kerap dituding sebagai pemicu krisis,” ungkapnya.

“Kita sedang mengalami masalah ekonomi yang sepanjang sejarah selalu kaum minoritas beragama disalahkan karenanya. Oleh karenanya pertemuan membahas tentang pendidikan, ketahanan, penghormatan dan inklusi adalah prinsip penting saat kita menghadapi pandemi dan konsekuensinya di dunia,” kata Tony Blair, Executive Chairman of the Tony Blair Institute for Global Change.

Pada acara penutupan, Sam Brownback, Duta Besar United States for International Religious Freedom menyampaikan Declaration on Education to Promote Resilience, Respect, and Inclusion yang antara lain mengakui kewajiban Internasional untuk melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan.




Baca juga: Terima Kunjungan FKUB dan Kesbangpol, LDII Sleman Komitmen Jaga Kerukunan Umat

Baca juga: Salat Jumat di Masjid, Ini Protokol Kesehatan yang Diterapkan LDII Mimika Baru

 

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah AS untuk melawan diskriminasi dan kekerasan, termasuk diskriminasi dan kekerasan atas dasar agama atau kepercayaan. Pemerintahnya bertekad mempromosikan inklusi, resolusi konflik tanpa kekerasan, dan rasa hormat terhadap orang lain melalui pendidikan.

Menurutnya, generasi muda harus diberi pendidikan mengenai toleransi, untuk memperkuat masyarakat melawan dan mencegah kekerasan ekstremisme dan tindakan kekerasan atas dasar jenis kelamin, ras, atau agama dan perbedaan budaya.

LDII Kenalkan Pancasila sebagai Solusi

Sementara itu dalam diskusi hadir tokoh-tokoh dari perguruan tinggi internasional di Amerika dan aktivis kebebasan beragama dari Rusia, Perancis, Maroko, Afrika, Brazil, Selandia Baru dan negara-negara Asia Selatan.




Baca juga: Perkokoh Ukhuwah, LDII Kunjungi Kantor Kementerian Agama Gunungkidul

Baca juga: Terima Kunjungan Kemenag Kabupaten Polman, Ketua LDII Sulbar Sampaikan Pesan

 

Indonesia turut hadir dan diwakili Ketua Gusdurian Network Hj Alisa Qotrunnada Wahid yang merupakan putri Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Rioberto Sidauruk SH MH.

Dalam kesempatan diskusi, LDII menyampaikan gagasan terhadap cara pandang toleransi beragama, yang mungkin dapat dicontoh oleh negara-negara lain. “Indonesia memiliki keragaman budaya, etnik, dan agama yang memandang perbedaan dalam satu pandang. Kesamaan sudut pandang itu menciptakan toleransi antar komunitas beragama, saling bekerja sama dan menghargai. Cara pandang yang sama itu disebut Pancasia,” urai Rio Sidauruk.

Menurut Rio, percaya terhadap satu Tuhan, kemanusiaan yang adil beradab, persatuan Indonesia, kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan lima sila yang diyakini bangsa Indonesia. Pancasila merupakan falsafah bangsa sekaligus menjadi pemersatu.

Komentar

News Feed