oleh

Cerita Warga LDII Tulungagung saat Ribuan Orang Datangi Takziah

TULUNGAGUNG, LINES.id – Di Tulungagung, apabila ada yang meninggal, jumlah petakziah yang hadir untuk mensalati dan memakamkan jenazah dapat mencapai angka 7.000 orang. “Ketika ada yang meninggal, warga bersemangat memberikan penghormatan terakhir, berbela sungkawa, memberikan doa, mensalati dan juga mengantarkan jenazah sampai ke makam,” kata Moh Adi Priyono SPdI Wakil Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Tulungagung.

Pemacu semangat warga LDII Tulungagung dalam mengurus, mensalati hingga memakamkan jenazah adalah merujuk sabda Rasulullah SAW yang disebut dalam hadits riwayat Muslim. “Barang siapa mensalatkan jenazah, maka baginya satu qirath pahala. Dan bila turut menyaksikan pemakamannya, maka baginya dua qirath pahala. Sedangkan besar satu qirath seperti besarnya gunung Uhud”.

“Semua ini dilakukan dalam rangka menetapi perintah Allah dan Rasul untuk memandikan, mengkafani, mensalati, mendoakan hingga memakamkan jenazah, juga sebagai bentuk kepedulian sosial,” jelas Moh Adi. Dalam pelaksanannya, pengurus LDII setempat bertindak sebagai penggerak dan memberikan contoh di garda terdepan untuk kelancaran pemakaman jenazah.




Baca juga: PSBB Jakarta, LDII Minta Warga Utamakan Kemaslahatan Bersama

Baca juga: Musdalub VII Tahun 2020 LDII Lamongan Tetapkan Agus Yudhi Sebagai Ketua

 

Secara koordinasi, LDII Tulungagung membentuk tim pada tingkat Kabupaten yang berasal dari perwakilan wilayah masing-masing. Kemudian menyampaikan informasi kepada warga yang bekerjasama dengan Senkom Mitra Polri. Warga pun memiliki kesepakatan waktu upacara pemberangkatan jenazah ke pemakaman yakni pada pagi hari, pukul 08.00–09.00 WIB, siang hari antara 13.00–14.00 WIB dan malam hari antara 20.00–21.00 WIB.

Jumlah pentakziah yang besar ini selama ini dijelaskan oleh Moh Adi dengan merujuk dalil pada hadits riwayat Muslim. Dari Aisyah, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda. “Mayat yang disalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan”. Diperkuat pula dalam hadits riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa disalati oleh tiga baris (manusia), maka ia wajib (mendapatkan surga)”.

Takziah masa pandemi Covid-19

Sementara itu dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, terdapat perubahan sistem dalam pengurusan jenazah. “Baik ketika upacara pemberangkatan, maupun dalam kegiatan takziah, semua mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah,” jelas Moh Adi. Di antaranya, tetap memakai masker, mencuci tangan memakai sabun, dan menjaga jarak.




Baca juga: LDII Lamongan Gelar Musdalub VII Tahun 2020, Moch Amrodji Harapkan Regenerasi

Baca juga: Hadiri Diskusi Bersama Wakil Ketua MPR RI, Pj Ketum LDII Paparkan Kemandirian Ekonomi Umat

 

Kehadiran petakziah pun dibatasi tidak seperti biasanya, karena itu sebagai alternatif. Warga diserukan untuk melaksanakan salat gaib/jenazah di rumah masing-masing. Sementara rumah keluarga yang berduka menyiapkan hand sanitizer diperuntukkan bagi petakziah yang hadir.

Warga senantiasa diingatkan untuk menjaga jarak ketika duduk, serta disiapkan petugas pengingat protokol kesehatan. Pelaksanaan upacara pemakaman dipersingkat dan dipercepat untuk meminimalisir paparan Covid-19. (FF/Lines)

Komentar

News Feed