oleh

Kisah Umar bin Khatab Saat Sahabat Berselisih Pendapat Hadapi Wabah Tha’un

LINES.id – Abdullah bin Abbas mengisahkan kala Umar bin al-Khaththab melakukan perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, beliau ditemui oleh para amir (pemimpin) kota-kota wilayah Syam, Abu Ubaidah dan para sahabatnya. Mereka mengabarkan bahwa wabah tha’un sedang melanda Syam. Umar berkata, “Kumpulkan kepadaku sahabat muhajirin yang pertama!” Umar memberitahu mereka bahwa wabah tha’un telah berjangkit di Syam lalu meminta pendapat mereka. Ternyata sahabat Muhajirin berselisih pendapat.

Sebagian mereka berkata, “Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali.” Sebagian lainnya berkata, “Bersamamu masih banyak rakyat dan para sahabat. Kami tidak sepakat jika engkau membawa mereka menuju wabah tha’un.” Umar berkata, “Tinggalkanlah aku. Tolong panggilkan sahabat-sahabat Anshar!” Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin.

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku!” Lalu ia berkata, “Panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan (Fathu Makkah) dan sekarang berada di sini!” Aku pun memanggil mereka. Mereka ternyata tidak berselisih. Mereka semua berkata, “Menurut kami, sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini.” Umar berseru di tengah-tengah manusia; “Sungguh, aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Hendaknya kalian mengikuti!”




Baca juga: Besarnya Pahala Bersama Besarnya Cobaan Covid-19

Baca juga: Tak Selalu Suram, Petik Hikmah di Balik Corona

 

Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?” Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus. Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya. Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?”

Ibnu Abbas berkata, “Tiba-tiba datanglah Abdurrahman bin Auf, yang sebelumnya tidak hadir karena keperluannya. Ia berkata, ‘Sungguh, aku memiliki ilmu tentang masalah ini. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, janganlah engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un.” Ibnu Abbas berkata, “Lantas Umar memuji Allah, terus meninggalkan majelis. (Rowahu Shohihain)

Dari kisah Umar bin Khaththab tersebut dapat kita petik hikmahnya dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Yakni ketika ada tindakan pelarangan bepergian dan ketika ada tindakan tidak evakuasi, kita menjadi faham bahwa arahan tersebut sesuai dengan sabdanya Nabi Muhammad SAW. Bahkan ketika ada ajakan untuk berjaga-jaga dan antisipasi, berbagi doa, pun kita memaklumi. Semua masuk ranah ikhtiar, bukan menentang qodar Ilahi.  Di tengah-tengah situasi seperti inilah kita, insya Allah dimampukan untuk memandang kejadian dengan sebenar-benarnya; sebagai azab, cobaan, musibah atau berkah.

 

Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang

Komentar

News Feed