oleh

Rusia Gunakan Perang Informasi di Afghanistan

LINES.id – Sejak 2015, ketika Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menangguhkan partisipasi Moskow dalam rute pasokan Jaringan Distribusi Utara (yang memfasilitasi transit makanan, bahan bakar, dan perangkat keras untuk pasukan AS di Afghanistan). Rusia telah berubah dari mitra yang tidak konsisten menjadi musuh multipihak Amerika Serikat di Afghanistan.

Untuk mempercepat penarikan AS dari Afghanistan dan sekali lagi membangun pijakan geopolitik di negara yang dilanda perang itu. Rusia diduga memasok persenjataan ringan kepada Taliban dan menjadi tuan rumah negosiasi perdamaian alternatif, yang merusak otoritas kedaulatan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, lapor Foreign Policy.

Kontroversi seputar tanggapan Presiden AS Donald Trump yang acuh tak acuh terhadap dugaan pembayaran oleh Rusia kepada militan Afghanistan yang menargetkan pasukan AS, telah mengilhami banyak cerita tentang hubungan Moskow dengan Taliban. tetapi media tidak banyak memperhatikan ancaman yang sama berbahayanya terhadap keamanan nasional AS: perang informasi Rusia terhadap pasukan AS di Afghanistan.

Meskipun saluran-saluran berita Rusia telah menyoroti laporan spekulatif kriminalitas AS di Afghanistan selama lebih dari satu dekade, perang informasi Rusia melawan pasukan AS di Afghanistan semakin meningkat setelah Moskow memperkuat hubungan keamanannya dengan Taliban pada 2015.




Baca juga: Hagia Sophia Laksanakan Salat Jumat Perdana

Baca juga: Pesawat Melintas Bertuliskan ‘White Lives Matter’ di Laga Man City vs Burnley

 

Disinformasi Rusia (yang ditransmisikan melalui siaran radio dan outlet media online yang didukung Kremlin) berupaya mempengaruhi opini publik Afghanistan tentang Amerika Serikat.

Secara khusus, disinformasi Rusia berupaya meningkatkan dukungan Afghanistan untuk penarikan penuh pasukan AS, dan memicu kecurigaan tentang niat kehadiran pasukan keamanan AS yang tersisa di Afghanistan pascaperang.

Dengan mempromosikan konspirasi anti-Amerika di media pemerintah milik Rusia yang menjangkau khalayak Afghanistan dalam bahasa asli mereka. seperti Sputnik Dari, dan memberikan dukungan untuk cerita-cerita ini dalam pernyataan resmi, Kremlin telah memperlengkapi kembali berbagai campur tangan politik yang terdokumentasi dengan baik dalam melawan demokrasi Barat, menjadikannya senjata perang di Afghanistan.

Anti Rusia di Afghanistan

Meskipun kenangan tentang Perang Soviet-Afghanistan 1979-1989 terus memicu perasaan anti-Rusia di Afghanistan, investasi infrastruktur dan pembangunan lembaga pendidikan Rusia telah meningkatkan citranya di kalangan anak muda Afghanistan, yang memandang Amerika Serikat sebagai kekuatan pendudukan.




Baca juga: FT UMI Gelar Workshop Implementasi E-Jurnal, Harap Tingkatkan Akreditasi

Baca juga: Ombudsman Serahkan LAHP Dugaan Maladministrasi Pemerintah Desa Pidara

 

Peningkatan citra Rusia dan pertumbuhan sentimen anti-Amerika telah mendorong daya tarik disinformasi Rusia di Afghanistan. Sputnik Dari memiliki lebih dari 275.000 pengikut di Facebook, yang menerima banyak pembaruan harian dengan cerita-cerita yang mengecam perilaku AS di Afghanistan, Foreign Policy mencatat.

Sama seperti upaya Rusia untuk menabur ketidakpercayaan terhadap demokrasi liberal di masyarakat Barat, taktik disinformasi Moskow di Afghanistan telah ditandai dengan fluiditas ideologis mereka dan pesan yang beragam dan terkadang kontradiktif.

Rusia sebagian besar telah mempromosikan dua narasi tentang perilaku AS di Afghanistan, dilansir dari Foreign Policy. Yang pertama adalah, Amerika Serikat adalah penyumbang utama ketidakstabilan dan ekstremisme di Afghanistan, dan yang kedua adalah, pemerintah AS memiliki ambisi neokolonial di Afghanistan, yang telah memperpanjang kehadiran militernya dan akan benar-benar dibuka kedoknya sesaat setelah perang berakhir.

Narasi bahwa Amerika Serikat telah mengguncang Afghanistan melalui kepasifan terhadap terorisme atau dukungan aktif terhadap jaringan ekstremis, seperti ISIS, adalah tema sentral dari liputan media pemerintah Rusia tentang Afghanistan.

ISIS dan Afghanistan…

Komentar

News Feed