oleh

Renungan Malang (003)

Malam yang tak berbintang membuat suasana hatiku redup, kusuri jalan yang begitu sunyi, mataku tertuju pada sebatang pohon besar, yang dikerumuni kunang-kunang, ohh..begitu indahnya, mengingatkan aku dimasa kecil, yang suka berburu kunang-kunang. Saya terus berjalan keselah-selah rerumputan, dari kejauhan, saya mendengar suara seseorang tertawa, sayapun langsung mempercepat langkahku untuk menemui sumber suara itu, sudah jauh aku melangkah namun saya tidak mendapatkan siapapu, dan suara itupun hilang.

Rasa takutku pun timbul dan buluh kudukku merinding, dalam hatiku berkata ini bagaikan difilm-film horor. Saya pun berlari ingin kembali kerumah, namu saya tidak  menemukan jalan keluar, saya terus berlari, berteriak meminta tolong, tapi tak seorang pun yang datang menemuiku, dihutan itu benar-benar sunyi, tak berpenghuni, saya hanya bisa mendengar suari bising dari pepohonan, suara jangkrik yang berbunyi. saya pun tersunggur menenangkan hati, menimbang-nimbang kembali mengapa saya bisa sampai kesini, bukankah tadinya saya hanya berjalan-jalan di depan rumah, dalam benakku bertanya dari mana datangnya hutan ini, bukankah di kompleks rumahku hanya ada ruko-ruko dan pusat perbelanjaan di sampingnya??

Saya terbaring lelah, suasana mulai mencekam,  keringat dinginpun mulai bercucuran, aku mulai membaca doa dengan bibir yang gemetar, tubuhku tak bisa bergerak, ingin berteriak namun suaraku tak bisa keluar dengan sempurna, ya tuhan ada apa ini, gumam dalam hati. Sesekali aku ingin menggerakkan badan, namun berat rasanya, saya mendengar suara yang memanggil-mangil namaku, dalam hatiku mungkin itu keluargaku yang sedang sibuk mencariku, akupun berusaha untuk membangunkan badan tubuhku, suara itu semakin dekat dibarengi dengan suara ketukan ketukan yang bunyinya nyaring, dan aku mendengar suara telpon berbunyi, aku mulai dapat mendengarkannya dengan jelas, aku mulai membuka mata, dan akhirnya berhasil..

Jantungku berdenyut kencang.. Aku bernapas legah, ya tuhan aku terjebak dalam mimpi, kemudian aku melihat hp ku, ternyata 3 pesan diterima dan 5 panggilan tak terjawab dari paman ku. Aku pun langsung menghubunginya ternyata dia masih menunggu di depan rumah, kemudian saya berlari keluar dan disitu saya melihat wajahnya yang menggerut, saya mempersiapkan diriku untuk menerima kata-kata yang tak terduga, namun saya tidak menemukan itu, dia hanya menggeledek “wahh tidur bagaikan orang mati” sayapun tersenyum, dan meminta maaf saya ketiduran, dan dia sudah mengetahuinya, karna bukan kali ini saja aku tertidur seperti itu hingga tak mengingat apa-apa.

(Makassar 19 Desember 2012)

Komentar

News Feed